Senin, 12 Oktober 2009 di 06.24 | 0 komentar  

Musik populer atau Musik pop adalah nama bagi aliran-aliran musik yang didengar luas oleh pendengarnya dan kebanyak bersifat komersial.

Musik populer pertama kali berkembang di Amerika Serikat pada tahun 1920 di mana rekaman pertama kali dibuat berdasarkan penemuan Thomas Edison, dibedakan dengan Musik Klasik, Musik Jazz, Musik Tradisional, Musik Blues, kemudian juga berkembang ke negara-negara lain sedunia.

Sejarah Musik Klasik sejak Musik Gregorian tahun 590

Musik Klasik dimulai dengan penemuan Notasi Gregorian tehun 590 oleh Paus Agung Gregori, berupa balok not dengan 4 garis, namun notasi belum ada hitungannya. Paus Gregory semasa hidupnya telah mencatat lagu-lagu Gereja dengan Notasi Gregorian tersebut. sebelum tahun 590 musik mengalami kegelapan tidak ada peninggalan tertulis yang dapat dibaca.

Notasi Gregorian Tahun 590

Notasi musik lahir pada tahun 590 yang disebut Notasi Gregorian, yang ditemukan oleh Paus Agung Gregori, di mana sebelumnya musik mengalami kegelapan tidak ada peninggalan tertulis. Pada masa hidupnya Paus Gregori telah menyalin ratusan lagu-lagu Gereja dalam Notasi Gregorian tersebut. Notasi ini memekai 4 garis sebagai balok not, tetapi belum ada notasi iramanya (hitungan berdasarkan perasaan penyanyi. Di sini sifat lagu masih sebagai lagu tunggal atau monofoni.

Musik Organum 1150-1400

Pada awalnya orang menyanyi dengan nada yang sama, atau disebut dengan organum, nada atas dinyanyikan oleh wanita atau anak-anak, sedangkan nada rendah dinyanyikan oleh laki-laki. Di sini terjadi susunan lagu berjarak oktaf, suara tinggi (wanita/anak-anak) dan suara rendah (laki-laki).

Musik Diafoni 1400-1600

Ternyata tidak semua dapat mengikuti suara tinggi atau suara rendah.Oleh sebab itu diputuskan untuk membuat suara yang kuart lebih rendah mengikuti melodi, kuart tinggi maunpun kuart rendah, dan musik yang demikian ini disebut musik diafoni (dia=dua, foni=suara).

Basso Ostinato Tahun 1600

Orang-orang Italia pada tahun sekitar 1600 menemukan apa yang disebut Basso Ostinato atau Bass yang bergerak gendeng atau gila, berupa rangkaian nada-nada yang bergerak selangkah demi selangkah ke bawah atau ke atas, kemudia diulang pada rangkaian nada lain.

Musik Polifoni Era Barok 1600-1750

Ternyata suara yang mengikuti sama dengan melodi menjadi membosankan, maka mulailah suara tidak bergerak secara sejajar, maka mulailah dengan arah yang berlawanan. Komponis Giovani Perluigi da Palestrina (1515-1594) adalah perintis tentang hal ini, dan disusun teori mengenai musik melodi banyak (polifoni), sehingga setiap nada atau titik (punctus=point) bergerak secara mandiri atau berlawanan (counter), di sinilah lahir teori kontrapun (counterpoint=kontrapunt).

Johan Sebastian Bach (1685-1750) adalah salah satu empu musik polifoni dengan teknik kontrapun yang sangat tinggi, karema disusun seperti matematik. Hampir semua komponis Era Barok (1600-1750) menyusun dengan teknik kontrapun, misalnya George Frederic Handle dari Inggris, Jean Remeau dari Pernacis, Correli dari Itali, dlsb. Lagu rakyat dengan gaya polifoni adalah Papa Yakob.

Pada awalnya orang menyusun dengan Kontrapun Terikat atau Strict Counterpoint, namun kemudian menadapat kebebasan berdasarkan teori Kontrapun Bebas atau Free Counterpoint.

Musik Homofoni Era Klasik 1750-1825

Selanjutnya pada Era Klasik (1750-1825) ditemukan susunan akord yang berdasarkan tri-suara (triad), selanjutnya berkembang dengan empat suara atau lebih. Musik yang demikian ini disebut Musik Homofoni, sehingga kontrapun menjadi variasi melodi yang kontrapuntis.

Musik Klasik Era Romantik 1820-1910

Hampir tidak banyak perubahan dalam kontrapun dan harmoni secara fundamental pada Era Romantik (1820-1910), namun ada kemajuan dalam orketrasi lengkap (dengan penemuan alat musik). Era ini adalah yang terakhir dan masih dapat diterima dengan pendengaran masyarakat umum. Terutama pada musik opera, musik balet, dan walsa wina.

Musik Klasik Modern 1910-sekarang

Musik Modern dengan Musik Atonal dan Politonal telah jauh dari penggemar musik yang menyenangi musik konvensional, karena suara yang disonan dan irama yang tidak teratur membutuhkan konsentrasi dalam mendengar.

Sejarah Musik Pop sejak 1920

Musik Ragtime di Amerika Serikat sejak 1890

Musik Ragtime atau Cincang-Babi, adalah musik Amerika yang dipengaruhi oleh etnis Afrika-Amerika dan musik klasik Eropa. Musik ini mulai terkenal di daratan Amerika sekitar tahun 1890 hingga 1920. Musik ini mempuyai tempo atau irama yang cepat dengan dominasi sinkopasi, namun ada juga yang berirama agak lamban.

Biasanya musik ini dimainkan khusus dengan piano, gaya cincang-babi, dan para pianis dan pencipta antara lain Scott Joplin (1868-1917), James Scott (1885-1938), dan Joseph Lamb (1887-1959).

Musik Blues di Amerika Serikat sejak 1895

Musik Blues juga lahir dari etnis Afrika-Amerika di semenanjung Delta Mississippi pada akhir abad XIX sekitar tahun 1895 dan blangsung hingga kini. Musik ini lahir dari kehidupan para budak yang bekerja sebagai buruh tani ras Afrika di Amerika, di mana pada saat mereka bekerja atau istirahat sore hari mereka mengalunkan lagu-lagu sedih (blues) yang khas melodi ras Afrika, dan tentu saja dengan lirik-lirik budak yang tertindas pada waktu itu. Pada awalnya lagu blues hanya dinyanikan tanpa iringan instrument, kemudia baru meraka mempergunakan alat petik gitar sebagai iringan.

Belakangan musik blues ini mempengaruhi perkembangan musik jazz, country, dan rock. Perahtikan bahwa irama dan melodi musik blues sangat kental dengan ras Afrika. Kadang-kadang dalam syair timbul cerita tentang kesedihan mereka sebagai budak dan buruh tani, dan tentu saja perkembangannya sangat dipengaruhi lingkungan urban maupun desa Amerika, di mana ras Afrika mendominasi gaya musik blues.

Para pemusik blues dan pencipta blues, rata-rata orang hitam Amerika, adalah di mana W.C. Handy (1873-1958) adalah bapak blues. Lagu Aunt Hagar's Children dan Saint Louis Blues diterbitkan masing-masing pada tahun 1914 dan 1921.

Musik Pop di Amerika Serikat mulai 1920

Setelah Perang Dunia I berakhir (1918), maka musik baru di benua Amerika lahir yang disebut dengan Musik Populer. Musik ini terutama sebagai musik lantai dansa yang pada waktu itu menjadi populer sekali dan digemari oleh masyarakat seluruh dunia.

Musik Amerika Latin lahir sejak 1857

Ciptaan-ciptaan pencipta pada waktu itu dengan pengaruh latin adalah antara lain dari George Bizets Hababera dari opera Carmen (1875); Scott Joplin’s Mexican Serenade, Solace (1902); Maurice Ravels Rapsodie Espagnole (1907), dan Bolero (1928).

Musik pop latin dimulai sejak dansa latin dikenal, yaitu sejak tahun 1920 juga. Dansa Tango menjadi salah satu balroom dance yang terkenal pada tahun 1920 di Amerika maupun Eropa, di mana lagu Tango yang bertangga nada minor dan melankolik, serta step dansa yang agresif. Setelah itu tahuj 1930 dan 1940 berkembang menjadi salah satu musik yang digemari di dunia, dengan tokoh seperti Xavier Cugat, Peres Prado, dlsb. Irama yang berkembang pada waktu itu adalah Rhumba, Samba, Conga, Salsa, Mambo, dlsb.

Musik Country sejak 1920

Musik Country sering diidentitaskan dengan musik cowboy (penggembala sapi). Musik ini lahir pada rekaman permainan biola country John Carson dengan rekaman "Little Log Cabin in the Lane" oleh Okeh Records pada tahun 1923. Kemudian lahir rekaman oleh Columbia pada tahun 1924 "Old Familiar Tunes". Seperti diketahui steel guitar masuk country pada tahun 1922, di mana Jimmie Tarlton bertemu dengan Hawaiian guitarist Frank Ferera pada pantai barat Amerika.

Mulai tahun 1927, selama 17 tahun Carters merekam sekitar 300 old-time ballads, lagu traditional, lagu country, dll. Selanjutnya pada tahun 1930-an dan 1940-an lagu cowboy menjadi populer di semua film Hallywood. Dan tahun 1939 irama Boogie-woogie menjadi terkenal.

Aliran-aliran dalam musik populer

Diposting oleh Moh. Jazuli
Latar Belakang
Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyatakan guru adalah pendidik profesional. Untuk itu, guru dipersyaratkan memiliki kualifikasi akademik minimal Sarjana atau Diploma IV (S1/D-IV) yang relevan dan menguasai kompetensi sebagai agen pembelajaran.
Pemenuhan persyaratan kualifikasi akademik minimal S1/D-IV dibuktikan dengan ijazah dan pemenuhan persyaratan relevansi mengacu pada jejang pendidikan yang dimiliki dan mata pelajaran yang dibina. Misalnya, guru SD dipersyaratkan lulusan S1/D-IV Jurusan/Program Studi PGSD/Psikologi/Pendidikan lainnya, sedangkan guru Matematika di SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB, dan SMK/MAK dipersyaratkan lulusan S1/D-IV Jurusan/Program Pendidikan Matematika atau Program Studi Matematika yang memiliki Akta IV. Pemenuhan persyaratan penguasaan kompetensi sebagai agen pembelajaran yang meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional dibuktikan dengan sertifikat pendidik yang diperoleh melalui sertifikasi.
Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. Sertifikasi guru bertujuan untuk (1) menentukan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik profesional, (2) meningkatkan proses dan hasil pembelajaran, (3) meningkatkan kesejahteraan guru, (4) meningkatkan martabat guru; dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu.
Sertifikasi guru diikuti dengan peningkatan kesejahteraan guru. Bentuk peningkatan kesejahteraan tersebut berupa pemberian tunjangan profesi bagi guru yang memiliki sertifikat pendidik. Tunjangan tersebut berlaku, baik bagi guru yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) maupun bagi guru yang berstatus bukan pegawai negeri sipil (swasta).
Di beberapa negara, sertifikasi guru telah diberlakukan, misalnya di Amerika Serikat, Inggris dan Australia. Di Denmark kegiatan sertifikasi guru baru dirintis dengan sungguh-sungguh sejak tahun 2003. Memang terdapat beberapa negara yang tidak melakukan sertifikasi guru, tetapi melakukan kendali mutu dengan mengontrol secara ketat terhadap proses pendidikan dan kelulusan di lembaga penghasil guru, misalnya di Korea Selatan dan Singapura. Semua itu mengarah pada tujuan yang sama, yaitu berupaya agar dihasilkan guru yang bermutu.
Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi penyelenggaraan sertifikasi guru tahun 2007 dan 2008, khususnya untuk penyelenggaraan sertifikasi guru melalui penilaian portofolio masih ditemukan sejumlah kendala yang dapat menghambat proses pelaksanaan sertifikasi. Kendala ini umumnya terkait dengan sistem kelembagaan Rayon LPTK terkait, misalnya hubungan kemitraan antara PT induk dengan mitra yang kurang harmonis, kurangnya sarana dan prasarana yang dimiliki PT untuk penyelenggaraan sertifikasi, dan keragaman pemahaman atau interpretasi asesor terhadap rubrik penilaian portofolio serta pola pelaksanaan sertifikasi. Untuk itu, dipandang perlu adanya bantuan dari departemen yang menauinginya. Bantuan ini dapat gulirkan dalam bentuk hibah nonkompetitif yang berbasis pada kebutuhan LPTK.

Tujuan
Program ini bertujuan untuk membantu Rayon LPTK yang ditugaskan sebagai penyelenggara sertifikasi untuk melakukan penguatan-penguatan dalam sistem kelembagaannya.

Dasar Hukum
Dasar hukum pelaksanaan sertifikasi guru adalah sebagai berikut.
a. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
b. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
c. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
d. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2005 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik.
e. Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2008 tentang Guru
f. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi bagi Guru dalam Jabatan yang sedang dalam proses perubahan Kepmendiknas yang baru.
g. Peraturan Mendiknas Nomor 40 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan melalui Jalur Pendidikan.
h. Keputusan Mendiknas Nomor 056/O/2007 tentang Pembentukan Konsorsium Sertifikasi Guru (KSG).
i. Keputusan Mendiknas Nomor 057/O/2007 tentang Penetapan Perguruan Tinggi Penyelenggara Sertifikasi Guru dalam Jabatan yang sedang dalam proses perubahan Kepmendiknas yang baru.

Sasaran
Sasaran program ini adalah penguatan sistem kelembagaan Rayon LPTK penyelenggara sertifikasi, antara lain meliputi:
1. Koordinasi Tim Sertifikasi Guru
2. Pertemuan para anggota Konsorsium Sertifikasi Guru (KSG)
3. Penetapan LPTK penyelenggara Sertifikasi Guru Tahun 2009/2010
4. Revisi panduan pelaksanaan mengakomodasi pernyataan di PP No. 74 tahun 2008.
5. Sosialisasi pelaksanaan Sertifikasi Guru tahun 2009 ke Dinas Pendidikan Kab/Kota dan LPTK penyelenggara.
6. Peningkatan kualitas asesor
7. Pelaksanaan penilaian portofolio di LPTK
8. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan penilaian portofolio oleh tim ke LPTK penyelenggara
9. Pelaksanaan Diklat PLPG di LPTK
10. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan PLPG oleh tim ke LPTK penyelenggara
11. Pembuatan laporan Kegiatan

Luaran
Luaran program ini adalah terciptanya sistem kelembagaan yang berkualitas pada Rayon LPTK penyelenggara sertifikasi guru dalam jabatan yang ditandai dengan:
1. Terpilihnya LPTK penyelenggara Sertifikasi Guru tahun 2009/2010
2. Tersusunnya Panduan pelaksanaan Sertifikasi Guru untuk LPTK, Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, Guru dan Instansi terkait
3. Terlaksananya program Sertifikasi Guru baik melalui penilaian portofolio maupun PLPG

Pelaksanaan
Program ini dilaksanakan dalam beberapa tahap, yaitu:
Tahap 1: Penyususnan panduan pelaksanaan
Tahap 2: Pengembangan panduan penyususnan usulan program (proposal)
Tahap 3: Penyusunan usulan program penguatan kelembagaan penyelenggaraan sertifikasi oleh LPTK yang diberi tugas sesuai Kepmendiknas.
Tahap 4: Penilaian usulan dan negosiasi anggaran
Tahap 5: Pelaksanaan program oleh LPTK pengusul
Tahap 6: Monitoring Pelaksanaan Program
Tahap 7: Pelaporan pelaksanaan program oleh LPTK
Tahap 8: Evaluasi laporan LPTK
Tahap 9: Penyusunan laporan pelaksanaan program
Diposting oleh Moh. Jazuli
Dalam rangka pencapaian target Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun (Wajar Dikdas 9 Tahun), pemerintah Indonesia telah membuat lompatan besar antara lain melalui perluasan dan peningkatan akses terhadap sekolah dasar menengah pertama. Usaha tersebut telah mendekati akses bagi semua (educated for all). Sebagaimana halnya pengalaman penyediaan di negara-negara yang memperluas akses pendidikan secara cepat, masalah kualitas cenderung tidak mendapat perhatian yang memadahi.
Berbagai penelitian tentang guru dan hasil belajar siswa memberikan sejumlah implikasi pentingnya berbagai strategi peningkatan mutu guru dalam rangka memperbaiki proses pembelajaran. Beberapa temuan penting dari berbagai riset antara lain (1) keterampilan dan pengetahuan guru cenderung berpengaruh besar terhadap prestasi siswa dibanding dengan variabel lain seperti pengalaman guru, ukuran kelas, dan rasio guru-siswa (2) para siswa dapat mencapai prestasi yang lebih tinggi jika diajar oleh guru yang telah bersertifikat standar (3) persiapan dan sertifikasi guru memiliki korelasi yang paling kuat dengan prestasi siswa.
Tingkat pendidikan, prestasi dan sertifikasi tidak dapat menjamin para guru mampu menyampaikan pengetahuan yang diperoleh sepanjang hidupnya dalam bentuk materi pelajaran yang memadai selama proses belajar mengajar. Penguasaan materi dan keterampilan dan keterampilan mengajarkan materi akan menentukan keberhasilan peningkatan mutu pembelajaran siswa.
Pengembangan profesional berkelanjutan (continuous professional development) diyakini akan menjadi salah satu faktor penentu utana dari performence (kinerja) guru. Pengalaman negara-negara lain mendukung kenyataan bahwa partisipasi dalam worksop. Kursus dan pelatihan, juga mengarah pada peningkatan mutu guru secara signifikan.
Kerangka pikir sebagaimana diuraikan di atas melandasi dibangunnya kerjasama antara Pemerintah Indonesia beserta Pemerintah Belanda dan Bank Dunia penyelenggaraan Program Bermutu (Better Education through Reformed management and Universal Teacher Upgrading). Program ini difokuskan untuk upaya peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan kompetensi dan kinerja guru. Sumber pendanaan program berasal dari Pemerintah Belanda (melalui Dutch Trust Fund) dan Bank Dunia (pinjaman lunak melalui IDA Credit dan IBRD Loan), serta pendampingan yang berasal dari Pemerintah Pusat (Ditbindiklat Ditjen PMPTK, Dit. Ketenagaan Ditjen Dikti, dan Balitbang Depdiknas) serta Pemerintah Daerah.
Keterlibatan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dalam Program Bermutu karena tuntutan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang mengamanatkan untuk peningkatan kualifikasi dan kompensasi bagi sekitar 2,7 juta guru di tanah air. Undang-undang tersebut menetapkan bahwa pada akhir periode 10 tahun setelah diundangkan (tahun 2015), seluruh guru dapat memenuhi persyaratan kualifikasi pendidikan minimal Jenjang S-1 atau sederajat, dan mengikuti proses sertifikasi pendidik.


(1) Dana Insentif Akreditasi (DIA)

Latar belakang
Dengan lahirnya Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pemerintah Republik Indonesia dengan sangat jelas memberi perhatian tinggi untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan mutu guru. Guru yang bermutu dalam pengertian Undang-undang tersebut adalah guru yang mempunyai empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogi, kompetensi profesional, kompetensi pribadi dan kompetensi sosial. Untuk menghasilkan guru yang bermutu, maka peranan institusi pendidikan guru, dalam hal ini Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) menjadi sangat penting dan strategis untuk dapat menghasilkan guru yang bermutu di masa yang akan datang, khususnya guru pendidikan dasar. Namun demikian, sampai saat ini belum ada program studi S-1 PGSD yang mendapatkan pengakuan akreditasi sebagai standar kualifikasi dalam menghasilkan lulusan yang bermutu.

Untuk itu, dalam rangka mendukung upaya akreditasi Program Studi S-1 PGSD, Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti), Departemen Pendidikan Nasional melalui program Better Education through Reformed Managementand Universal Teacher Upgrading (BERMUTU) akan memberikan Dana Insentif Akreditasi (DIA) kepada LPTK untuk mengembangkan kapasitas dan meningkatkan mutu program-program yang dikembangkannya, khususnya pada Program Studi S-1 PGSD. DIA BERMUTU diberikan kepada LPTK yang memenuhi persyaratan melalui proses kompetisi (competetion) dan dilakukan mulai tahun 2008.

Tujuan
Pemberian DIA BERMUTU bertujuan untuk:
a) Memfasilitasi Program Studi S-1 PGSD dan program studi lainnya untuk memenuhi standar akreditasi nasional dan untuk melakukan inovasi program-program pendidikan guru;
b) Memberi penguatan dan motivasi kepada program pendidikan guru (S-1) dan lulusannya, yang pada akhirnya akan berdampak kepada mutu pendidikan guru di Indonesia.

Program DIA BERMUTU akan dilaksanakan dalam tiga putaran.
Putaran pertama pada tahun 2008 – 2010, kedua pada tahun 2009 – 2011, dan ketiga pada tahun 2010 – 2012.
Pada setiap putaran akan dilakukan kompetesi bagi seluruh LPTK, termasuk LPTK yang telah mendapatkan Hibah dari Ditjen Dikti. Untuk memberi kesempatan kepada semua LPTK, maka dibuat kelompok berdasarkan kategori kapasitasnya.
Kelompok-A adalah LTPK yang masuk dalam kategori institusi besar dan kelompok-B adalah kategori institusi kecil. Untuk itu, diperlukan mekanisme seleksi terhadap lebih dari 300 LPTK yang tersebar di pelbagai daerah dan perguruan tinggi di Indonesia.

Dalam program BERMUTU, total LPTK yang akan mendapat DIA BERMUTU hingga putaran akhir adalah sejumlah 26 LPTK yang teridiri atas 13 LPTK Kelompok-A dan 13 LPTK Kelompok-B.

Setiap LPTK mempunyai kesempatan yang sama untuk mengikuti kompetensi pada setiap putaran.
LPTK yang tidak berhasil menjadi pemenang pada putaran pertama, dibolehkan untuk mengikuti putaran kedua. Demikian pula bagi LPTK yang tidak berhasil pada putaran kedua, dapat mengikuti kompetesi putaran ketiga.
Sementara itu, mekanisme pembayaran bagi LPTK yang dinyatakan sebagai pemenang dalam kompetisi setiap putaran, akan dilakukan melalui mekanisme tahapan selama tiga tahun untuk setiap kelompok.

Dana Pendamping Institusi

Bagi LPTK yang terpilih sebagai pemenang, diharuskan mempunyai komitmen dana pendamping yang disediakan sebagai cerminan komitmen institusi bagi menjaga sustainabilitas investasi hibah yang diterimanya. Bentuk komitmen dana pendamping ditunjukkan dengan keterangan yang ditandatangi oleh Rektor atau Pimpinan LPTK pemenang. Besarnya dana pendamping sedkitnya 10% dari besarnya nilai total DIA BERMUTU.

Hasil yang Diharapkan
1) Pedoman usulan (proposal), laporan tahunan dan evaluasi;
2) Kriteria dan prosedur monitoring dan evaluasi DIA BERMUTU untuk menjamin bahwa program studi yang diusulkan oleh LPTK dapat mencapai sasaran yang ditetapkan;
3) Sedikitnya terdapat 26 LPTK yang program S-1 PGSD serta program studi lain yang diusulkan memperoleh status terakreditasi dalam periode waktu pelaksanaan program BERMUTU;
4) Hasil-hasil dan Pengalaman yang diperoleh LPTK, dapat digunakan sebagai model bagi institusi pendidikan guru lainnya dalam program pra-jabatan atau program dalam jabatan.



(2) Program Pengembangan Pendidikan Jarak Jauh


Latar belakang
Sistem Pendidikan Jarak Jauh (SPJJ) memiliki keunikan yang sekaligus membedakannya deangan sistem belajar yang diselenggarakan secara tatap muka. Salah satu keunikannya adalah keterpisahan secara fisik antara pengajar dan mahasiswa. Keunikan ini sekaligus membawa konsekuensi langsung yaitu keterbatasan proses belajar mengajar yang dilakukan dalam bentuk tatap muka.
Untuk mengatasi keterbatasan frekuensi pembelajaran tatap muka, maka harus dijembatani dengan penggunaan media yang memungkinkan terjadinya interaksi antara pengajar dan mahasiswa. Selain itu, penggunaan media belajar juga merupakan suatu bentuk strategi yang memungkinkan proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien. Melalui pemanfaatan media pembelajaran, mahasiswa dapat dengan fleksibel menentukan waktu belajar kapan saja, dimana saja,, menyesuaikan dengan kecepatan dan gaya belajarnya.
Media belajar utama dalam Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) adalah media cetak atau biasa dikenal sebagai modul. Bahan belajar lainnya yang perlu dikembangkan dalam sistem pembelajaran jarah jauh adalah media noncetak seperti audio, video, pembelajaran berbantuan komputer, dan lain-lain.
Melihat pentingnya peranan bahan pembelajaran dalam proses belajar mengajar pada pendidikan jarak jauh, maka dipandang perlu untuk mengembangkan bahan pembelajaran yang baik. Tujuan utama dari program ini adalah peningkatan kualitas dan kuantitas bahan pembelajaran. Beranjak dari tujuan tersebut,maka dipandang perlu untuk melakukan suatu kajian untuk mengevaluasi bahan pembelajaran yang telah ada dan digunakan oleh mahasiswa dan tutor.
Kegiatan ini akan dilaksanakan dalam lima subkegiatan, yaitu;

(a) Pengembangan instrumen kajian bahan pembelajaran
Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen bagi para evaluator dalam mengkaji paket bahan pembelajaran sehingga mereka mempunyai standar yang sama dalam mengkaji.
Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk workshop.

Peserta yang terlibat dalam kegiatan ini adalah;
• Tim yang ditunjuk Dikti (7 orang)
• Panitia (2 orang)
Instrumen kajian paket bahan pembelajaran:
• Pedoman wawancara bagi Tutor
• Pedoman wawancara bagi mahasiswa
• Kuesioner bagi tutor
• Kuesioner bagi mahasiswa

(b) Survei
Survey ini bertujuan untuk mendapatkan data keadaan/kualitas bahan-bahan pembelajaran yang telah ada berdasarkan penggunanya (tutor dan mahasiswa). Data ini akan membantu sebagai masukan untuk perbaikan dalam pengembangan bahan pembelajaran yang baru.
Pengambilan data akan dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan wawancara pada mahasiswa dan tutor pengguna bahan pembelajaran yang telah ada.
LPTK yang akan dikunjungi dipilih untuk mewakili lokasi Indonesia bagian Barat (Universitas Lampung dan Universitas Negeri Malang), Lokasi Indonesia bagian Tengah (Universitas Haluoleo), dan Indonesia bagian Timur (Universitas Cendrawasih).
Kegiatan ini melibatkan tim reviewer yang ditunjuk oleh Ditjen Dikti, Unila, UM, Unhalu, Uncen.
Kegiatan ini diharapkan dapat mengumpulkan data tentang kualitas bahan pembelajaran yang berasal dari kuesioner dan wawancara yang akan digunakan dalam kegiatan analisis.

(c) Evaluasi konten
Evaluasi konten ini bertujuan untuk mendapatkan data kualitas konten bahan-bahan pembelajaran yang telah ada.
Evaluasi konten dilakukan oleh ahli materi dan media. Setiap paket bahan ajar akan di evaluasi oleh dua orang evaluator. Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 minggu.
Peserta yang terlibat pada kegiatan ini adalah para evaluator yang berjumlah 24 orang.
Kegiatan ini diharapkan dapat mengumpulkan data tentang kualitas konten bahan pembelajaran.

(d) Analisis
Kegiatan ini bertujuan untuk menganalisa hasil dari survey untuk digunakan sebagai masukan perbaikan dalam pengembangan bahan pembelajaran yang baru. Kegiatan ini diharapkan dapat memetakan masalah atau kelemahan yang terdapat pada bahan pembelajaran yang ada.
Kegiatan ini dilaksanakan melalui workshop selama 2 hari.
Peserta workshop ini adalah;
• Evaluator (24 orang)
• Panitia 3 orang)
Kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan data yang akurat tentang masalah atau kelemahan dari bahan pembelajaran yang ada.

(e) Pelaporan hasil analisis
Kegiatan ini bertujuan untuk merangkum hasil analisis data menjadi sebuah laporan yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pengembangan bahan pembelajaran selanjutnya.
Pembuat laporan adalah tim evalautor (24 orang).
Laporan ini diharapkan berisi hasil analisis dan saran perbaikan.


(3) Program Beasiswa S3 Luar Negeri Bidang Pendidikan Dasar

Latar Belakang
Jenjang pendidikan dasar, selain menjadi fondasi yang kuat bagi pembentukan karakter dan sikap positif, juga menjadi penentu bagi keberhasilan anak didik dalam menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Pendidikan dasar yang kuat dan kokoh diyakini akan dapat memberi sumbangan berarti terhadap kemandirian dan kualitas hidup anak didik di kemudian hari. Untuk itu, berbagai upaya telah ditempuh Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan mutu pendidikan dasar, antara lain memberi bantuan kepada LPTK yang menyelenggarakan pendidikan dasar (PGSD) melalui Program Hibah Kompetisi S-1 PGSD. Tujuan pemberian hibah tersebut adalah untuk memfasilitasi penyelenggaraan Pendidikan Guru di tingkat pendidikan dasar, meningkatkan kesehatan organisasi, dan meningkatkan kinerja Jurusan/ Program Studi penyelenggara PGSD secara berkelanjutan.
Dalam upaya menjaga kualitas proses pembelajaran di program studi S-1 PGSD, faktor dosen mempunyai peran sentral untuk menentukan kompetensi lulusan, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Dengan demikian, kualifikasi akademik dosen yang mempunyai kualifikasi doktor, menjadi ukuran penting dalam penyelenggaraan program studi S-1 PGSD yang berkualitas. Kualifikasi akademik dosen dapat ditingkatkan melalui pendidikan lanjut bergelar, baik di dalam maupun di luar negeri. Terlebih lagi pada era globalisasi saat ini, sangat diperlukan dosen PGSD yang berkualitas dan memiliki kualifikasi akademik berskala internasional.
Saat ini, dosen-dosen penyelenggara PGSD masih banyak yang belum memperoleh kesempatan untuk mengikuti pendidikan lanjut ke tingkat doktoral, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Untuk itu, Pemerintah melalui Ditjen Dikti mendorong dan menawarkan berbagai program studi lanjut kepada dosen-dosen tersebut untuk meningkatkan kualifikasi akademiknya hingga ke tingkat doktoral. Khusus bagi LPTK penyelenggara PGSD, Ditjen Dikti melalui program BERMUTU memberi peluang dan kesempatan kepada dosen-dosen tetap yang memenuhi kriteria untuk menempuh pendidikan lanjut pada tingkat doktoral di luar negeri. Melalui program BERMUTU, peserta yang terpilih akan memperoleh beasiswa termasuk biaya pendidikan yang disesuaikan dengan ketentuan Ditjen Dikti. Setelah menyelesaikan pendidikannya, mereka diharapkan kembali bekerja dan mengajar di LPTK asal dan dapat menjadi leaders yang berwawasan internasional untuk mengembangkan pendidikan, khususnya bidang pendidikan dasar.

Tujuan
Program ini dimaksudkan untuk memfasilitasi proses peningkatan kualitas tenaga pengajar dan peneliti di program studi PGSD agar mencapai tingkat pendidikan tertinggi (dalam hal ini tingkat doktoral) sehingga dapat mengajar dengan lebih baik dan mempunyai wawasan luas bertaraf internasional. Tersedianya dosen PGSD yang berkualitas, akan dapat menghasilkan guru-guru SD yang berkemampuan tinggi untuk melaksanakan proses pengajaran di SD, yang pada akhirnya akan memperbaiki kualitas pembelajaran di SD. Keberhasilan pendidikan dasar akan sangat menentukan terciptanya anak bangsa yang siap untuk mengikuti pendidikan lanjut, sehingga mampu bersaing di tingkat internasional.

Hasil yang diharapkan
Setelah program ini selesai dilaksanakan, diharapkan terdapat sedikitnya 30 orang dosen-dosen PGSD yang tersebar di LPTK negeri dan swasta seluruh Indonesia mempunyai kualifikasi akademik S-3 (Doktor) luar negeri. Selain itu, diharapkan pula meningkatnya kualitas kurikulum dan pembelajaran serta produk penelitian pada program studi S-1 PGSD di seluruh Indonesia yang pada akhirnya dapat meningkatkan mutu pendidikan dasar dan peningkatan daya saing bangsa.
Pembiayaan dan Jangka Waktu Studi

Biaya yang ditanggung oleh Ditjen Dikti meliputi:
a. Biaya orientasi keberangkatan studi luar negeri.
b. Biaya kuliah di universitas di luar negeri.
c. Biaya asuransi kesehatan selama studi
d. Biaya hidup selama studi
e. Biaya penyesuaian pada awal studi
f. Biaya buku
g. Biaya konferensi atau seminar
h. Biaya penyusunan disertasi
i. Biaya penelitian
j. Biaya kelebihan bagasi
k. Biaya penerbangan (kelas ekonomi)

Program ini tidak menanggung biaya untuk anggota keluarga peserta studi S-3 yang ikut serta ke negara tujuan dan besarnya beasiswa bervariasi yang tergantung pada negara tujuan dan bidang ilmu.

Masa studi adalah 3 tahun, dapat diperpanjang maksimum 6 bulan (bila diperlukan). Usulan perpanjangan hanya akan diproses bila disertai dengan :
1) Surat jaminan dari supervisor bahwa peserta akan selesai dengan penambahan waktu yang diusulkan.
2) Laporan kemajuan studi yang telah dicapai.
3) Rencana kegiatan yang akan dilakukan selama perpanjangan waktu yang diusulkan.
4) Kesulitan yang dihadapi sehingga menghambat penyelesaian studi.

(4) Program Pelatihan Singkat Luar Negeri Bidang Pendidikan Dasar

Latar belakang
Dalam upaya meningkatkan kualitas proses pembelajaran di LPTK, faktor dosen mempunyai peran sentral untuk menentukan keberhasilan lulusan. Selain itu, dosen mempunyai fungsi strategis dalam pengembangan pendidikan tinggi, terutama untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Dengan demikian, kualitas akademik dosen, menjadi ukuran penting dalam penyelenggaraan program studi PGSD, PGSM, dan PLB yang berkualitas. Kualitas akademik dosen dapat ditingkatkan melalui pelatihan non-gelar atau melalui pendidikan lanjut bergelar, baik di dalam maupun di luar negeri. Terlebih lagi pada era globalisasi saat ini, sangat diperlukan dosen PGSD, PGSM, dan PLB yang berkualitas dan berskala internasional. Pelatihan non-gelar diperlukan untuk mempertajam pengetahuan dan keterampilan para dosen PGSD, PGSM, dan PLB dalam meningkatkan wawasan di bidang masing-masing yang dilaksanakan di luar negeri.

Untuk itu, Pemerintah melalui Ditjen Dikti menawarkan pelatihan kepada dosen-dosen PGSD, PGSM, dan PLB untuk meningkatkan wawasan akademiknya di perguruan tinggi luar negeri melalui program BERMUTU (IDA CREDIT NO.4349-IND/IBRD LOAN NO.7478-IND dan HIBAH TF-090794). Dosen yang terpilih akan memperoleh biaya pelatihan yang disesuaikan dengan ketentuan Ditjen Dikti. Setelah mengiktui pelatihan, mereka diharapkan kembali mengajar di program studi PGSD, PGSM, dan PLB institusi asal serta dapat menyebarluaskan pengetahuan dan keterampilannya kepada rekan sejawat maupun mahasiswa di program studi masing-masing.

Tujuan
Program ini dimaksudkan untuk memfasilitasi proses peningkatan kualitas tenaga pengajar di program studi PGSD, PGSM, dan PLB agar memiliki wawasan yang luas mengenai bidang masing-masing yang bertaraf internasional. Dengan tersedianya dosen PGSD, PGSM, dan PLB berwawasan luas, diharapkan dapat menghasilkan guru pendidikan prasekolah, pendidikan dasar dan menengah, serta pendidikan luar biasa yang berkualitas untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. Keberhasilan pendidikan pada masing-masing jenjang dan jenis tersebut akan dapat menentukan terciptanya anak bangsa yang mampu bersaing di tingkat internasional.

Hasil yang diharapkan
Setelah selesainya program ini, diharapkan terdapat sedikitnya 90 orang dosen-dosen dari berbagai program studi (PGSD, PGSM, dan PLB) yang tersebar di seluruh Indonesia telah mempunyai wawasan dan pengalaman internasional dan keterampilan yang tinggi untuk meningkatkan mutu proses pembelajaran dan penelitian di bidang masing-masing. Selain itu, diharapkan pula hasil-hasil yang diperoleh selama pelatihan di luar negeri dapat disebarkan ke program studi lain sehingga memberikan dampak positif terhadap pengembangan institusi secara keseluruhan.

Pembiayaan dan Jangka Waktu Pelatihan
Biaya yang ditanggung oleh Ditjen Dikti selama peserta mengikuti pelatihan meliputi:
• Biaya orientasi pelatihan luar negeri
• Biaya hidup selama program pelatihan di luar negeri.
• Penerbangan (kelas ekonomi) ketika berangkat ke luar negeri dan pulang setelah selesai pelatihan.
Masa pelatihan singkat yang akan dilaksanakan oleh Ditjen Dikti selama tiga (3) bulan, terhitung sejak peserta pelatihan diberangkatkan.

Sasaran Tahun 2009

Pada Tahun Anggaran 2009, kegiatan BERMUTU difokuskan untuk program besar sebagai berikut :
a. Meneruskan Program Hibah LPTK untuk Pemenuhan Standar Akreditas Institusi (DIA BERMUTU) Batch I tahun II (7 paket)
b. Program Baru Hibah LPTK untuk Pemenuhan Standar Akreditas Institusi (DIA BERMUTU) Batch II tahun I (8 paket)
c. Meneruskan Program Pengembangan Pendidikan Jarak Jauh (DIPBPJJ) Batch I tahun II (14 paket)
d. Program Baru Pengembangan Pendidikan Jarak Jauh (DIPBPJJ) Batch II tahun I (18 paket)
e. Meneruskan Program Beasiswa Pendidikan S3 Luar Negeri Bidang Kependidikan (On going) Batch I Tahun II (9 orang)
f. Program Baru Beasiswa Pendidikan S3 Luar Negeri Bidang Kependidikan Batch II Tahun I (1 orang)
g. Program Baru Beasiswa Pelatihan Singkat Luar Negeri Bidang Kependidikan (20 orang)
Diposting oleh Moh. Jazuli
Sistem Pendidikan Jarak Jauh (SPJJ) memiliki keunikan yang sekaligus membedakannya dengan sistem belajar yang diselenggarakan secara tatap muka. Salah satu keunikannya adalah keterpisahan secara fisik antara pengajar dan mahasiswa. Keunikan ini sekaligus membawa konsekuensi langsung yaitu keterbatasan proses belajar mengajar yang dilakukan dalam bentuk tatap muka.
Untuk mengatasi keterbatasan frekuensi pembelajaran tatap muka, maka harus dijembatani dengan penggunaan media yang memungkinkan terjadinya interaksi antara pengajar dan mahasiswa. Selain itu, penggunaan media belajar juga merupakan suatu bentuk strategi yang memungkinkan proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien. Melalui pemanfaatan media pembelajaran, mahasiswa dapat dengan fleksibel menentukan waktu belajar kapan saja, dimana saja,, menyesuaikan dengan kecepatan dan gaya belajarnya.
Media belajar utama dalam Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) adalah media cetak atau biasa dikenal sebagai modul. Bahan belajar lainnya yang perlu dikembangkan dalam sistem pembelajaran jarah jauh adalah media noncetak seperti audio, video, pembelajaran berbantuan komputer, dan lain-lain.
Melihat pentingnya peranan bahan pembelajaran dalam proses belajar mengajar pada pendidikan jarak jauh, maka dipandang perlu untuk mengembangkan bahan pembelajaran yang baik. Tujuan utama dari program ini adalah peningkatan kualitas dan kuantitas bahan pembelajaran. Beranjak dari tujuan tersebut,maka dipandang perlu untuk melakukan suatu kajian untuk mengevaluasi bahan pembelajaran yang telah ada dan digunakan oleh mahasiswa dan tutor.
Kegiatan ini akan dilaksanakan dalam lima subkegiatan, yaitu;

  • Pengembangan instrumen kajian bahan pembelajaran

    Tujuan
    Kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen bagi para evaluator dalam mengkaji paket bahan pembelajaran sehingga mereka mempunyai standar yang sama dalam mengkaji.
    Strategi pelaksanaan
    Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk workshop.

    Peserta
    Peserta yang terlibat dalam kegiatan ini adalah;
    • Tim yang ditunjuk Dikti (7 orang)
    • Panitia (2 orang)

    Hasil yang diharapkan
    Instrumen kajian paket bahan pembelajaran:
    • Pedoman wawancara bagi Tutor
    • Pedoman wawancara bagi mahasiswa
    • Kuesioner bagi tutor
    • Kuesioner bagi mahasiswa

  • Survei

    Tujuan
    Survey ini bertujuan untuk mendapatkan data keadaan/kualitas bahan-bahan pembelajaran yang telah ada berdasarkan penggunanya (tutor dan mahasiswa). Data ini akan membantu sebagai masukan untuk perbaikan dalam pengembangan bahan pembelajaran yang baru.

    Strategi Pelaksanaan
    Pengambilan data akan dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan wawancara pada mahasiswa dan tutor pengguna bahan pembelajaran yang telah ada.

    Lokasi
    LPTK yang akan dikunjungi dipilih untuk mewakili lokasi Indonesia bagian Barat (Universitas Lampung dan Universitas Negeri Malang), Lokasi Indonesia bagian Tengah (Universitas Haluoleo), dan Indonesia bagian Timur (Universitas Cendrawasih).

    Institusi yang terlibat
    Kegiatan ini melibatkan tim reviewer yang ditunjuk oleh Ditjen Dikti, Unila, UM, Unhalu, Uncen.

    Hasil yang diharapkan
    Kegiatan ini diharapkan dapat mengumpulkan data tentang kualitas bahan pembelajaran yang berasal dari kuesioner dan wawancara yang akan digunakan dalam kegiatan analisis.

  • Evaluasi konten

    Tujuan
    Evaluasi konten ini bertujuan untuk mendapatkan data kualitas konten bahan-bahan pembelajaran yang telah ada.

    Strategi Pelaksanaan
    Evaluasi konten dilakukan oleh ahli materi dan media. Setiap paket bahan ajar akan di evaluasi oleh dua orang evaluator. Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 minggu.

    Peserta
    Peserta yang terlibat pada kegiatan ini adalah para evaluator yang berjumlah 24 orang.

    Hasil yang diharapkan
    Kegiatan ini diharapkan dapat mengumpulkan data tentang kualitas konten bahan pembelajaran.

  • Analisis

    Tujuan
    Kegiatan ini bertujuan untuk menganalisa hasil dari survey untuk digunakan sebagai masukan perbaikan dalam pengembangan bahan pembelajaran yang baru. Kegiatan ini diharapkan dapat memetakan masalah atau kelemahan yang terdapat pada bahan pembelajaran yang ada.

    Strategi Pelaksanaan
    Kegiatan ini dilaksanakan melalui workshop selama 2 hari.

    Peserta
    Peserta workshop ini adalah; Evaluator (24 orang) dan Panitia 3 orang)

    Hasil yang diharapkan
    Kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan data yang akurat tentang masalah atau kelemahan dari bahan pembelajaran yang ada.

  • Pelaporan hasil analisis

    Tujuan
    Kegiatan ini bertujuan untuk merangkum hasil analisis data menjadi sebuah laporan yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pengembangan bahan pembelajaran selanjutnya.
    Pembuat laporan
    Pembuat laporan adalah tim evalautor (24 orang).

    Hasil yang diharapkan
    Laporan ini diharapkan berisi hasil analisis dan saran perbaikan.
Diposting oleh Moh. Jazuli
Artikel Cara memutuskan Pacara, Artikel Mutusin Pacar, Artikel Pacaran, Artikel Selingkuh,

PUTUS ??? Pastinya Anda fasih dengan kalimat itu , “di mana ada pertemuan di situ ada perpisahan,” namun jika bicara masalah cinta apakah ini juga berlaku?

Jika memang kita mencintai seseorang tentunya kita tak ingin berpisah dari si dia, tetapi jika cinta itu pudar karena sebab-sebab dan alasan yang menjadi rahasia Anda, masihkah akan dipertahankan?

Tentu jawabannya tidak! Tetapi gimana sih cara memutuskan kekasih?

Di usia kita yang tentunya saat ini tidak muda lagi cukup banyak pertimbangan yang perlu dipikirkan terlebih dahulu sebelum membuat suatu keputusan putus cinta dan hubungan. Apapun pertimbangannya tentunya harus datang dari Anda sendiri agar nanti Anda tak kecewa.

Berikut adalah cara memutuskan kekasih, dari cara kuno dan kampungan, sampai cara yang paling manis dan menyedihkan.

1. Dengan SMS/ Email, IM atau telepon

Tak ingin melihat wajahnya saat Anda mengucapkan kata perpisahan? SMS, email, IM, atau telepon mungkin menjadi sarana yang tepat bagi Anda yang tak ingin bertemu.

Rating: 3 jempol Cara pengecut sih, tetapi jika ini membuat Anda lebih nyaman dan lebih percaya diri, hmm… dari sisi Anda sih sah-sah saja, tetapi sebaiknya pikirkan juga ya perasaan si dia sebelum Anda menggunakan cara kejam ini.

2. Menulis surat (cara yang paling kuno dan nggak elite)

Ok, ini adalah cara yang paling ketinggalan jaman. Anda bisa menulis sebuah surat putus cinta dan mengirimkannya via pos, via sahabat atau memasukkannya di kotak pos rumah si dia.

Rating: 3 jempol Cara yang paling kuno dan menjijikkan. Tidak bertemu secara langsung, hanya lewat surat. Hmm, emang sudah nggak jaman, dan apakah Anda mau dibilang ketinggalan jaman dan tidak bertanggung jawab? Yah semuanya sih terserah Anda, asal jangan membayangkan hasilnya akan romantis seperti di dalam klip lagu atau film ya.

3. Langsung menghilang

Nggak ada kata putus, anggap saja sudah putus, dan yang penting menurut Anda ya memang sudah putus.

Rating: 2 jempol Wow, ini cara yang lebih kejam daripada mengirimkan SMS atau lewat telepon. Tak ada kejelasan, tak ada alasan, tak ada kata perpisahan dan bahkan menimbulkan seribu pertanyaan di benak si dia.

Bisa dikatakan Anda tak memiliki hati atau seperti layaknya pembunuh berdarah dingin. Bagaimana tidak, Anda bahkan tak mau tahu apa yang si dia rasakan dan bagaimana pendapat si dia. Seandainya pun si dia salah, setidaknya dengarkan alasan dan pembelaan dari sisi si dia.

4. Menamparnya di depan banyak orang

Anda datang dengan penuh emosi kemudian langsung menghampiri dan memukulnya keras-keras di depan banyak orang. Plak!!!!!!

Rating: 1 jempol Layaknya di acara-acara TV yang membawakan reality show, berbagai adegan pemukulan disajikan. Entah karena si pasangan yang memang curang dan mendua, atau memang karena emosi semata. Sekalipun si dia bersalah dan telah menyakiti Anda, hal ini tidak dapat dibenarkan. Apa yang menjadi masalah Anda, sebaiknya diselesaikan secara baik-baik berdua, bukan di depan orang banyak yang malah akan membuat Anda malu.

5. Selingkuh saja!

Saking cintanya si dia pada Anda, saat Anda meminta putus darinya ia tak mau. Alhasil Anda langsung berpaling pada orang lain dengan harapan si dia akan memutuskan Anda.

Rating: 1 jempol Hmm….kejam sekali! Memang sih si dia keras kepala, tetapi nggak harus dengan cara kejam seperti ini kan. Anda dan si dia sudah sangat dewasa, sebaiknya bicarakan dengan cara yang dewasa, bukan main serong dan menyakiti perasaan si dia. Anda nggak mau kan dibalas dengan cara yang sama?

6. Diam saja

Diam saja sih namanya bukan putus neng! walaupun di dalam hati Anda sudah tak menganggapnya special, namun yang namanya hubungan dijalin berdua, jadi putus tidaknya, Anda dan si dialah yang menentukan,

Rating: 4 jempol masih ingatkah Anda saat Anda dan si dia mengucap janji cinta? Dari Anda berdualah ungkapan cinta itu ada, dan jika sekalipun Anda merasa harus diakhiri, sebaiknya melalui kesepakatan berdua juga dong!

7. Diskusi berdua

Ya karena yang menjalani adalah Anda berdua, maka memang bijaksananya Anda berdua yang mengambil keputusan. Sekalipun hal itu berat, diwarnai pertengkaran atau pun air mata, bagaimanapun juga cara ini adalah yang paling baik dan adil.

Rating: 5 jempol Secara dewasa memang yang namanya hubungan harus diatasi berdua, tanggung jawab berdua dan jika harus putus atau nyambung ya dijalani berdua.

8. Mengembalikan semua barang pemberiannya

Tiba-tiba Anda membawa sekotak penuh barang-barang pemberiannya, mulai dari jam lucu, boneka, baju, sepatu dan bunga-bunga manis darinya.

Rating: 2 jempol beberapa orang mungkin tak akan menyukai cara ini, pada umumnya pria memiliki gengsi yang cukup besar sehingga saat semua barang pemberian mereka, Anda kembalikan maka mereka malah akan marah dan tersinggung. Tetapi di sisi lain, ini menunjukkan Anda sudah tak mau melihat apapun yang berhubungan dengan si dia.

9. Lewat Lagu

Mungkin hanya lewat lagu, perasaan itu bisa diungkapkan secara menggebu-gebu. Tak terkesan kasar, namun romantis dan menyayat hati.

Rating: 5 jempol yah bagi Anda yang memang suka akan sesuatu yang romantis bisa memutuskan si dia lewat lagu. Setidaknya dengan cara ini mencegah Anda agar tak berkata kasar dan menyakiti. Walaupun hati si dia tetap sakit dan bahkan mungkin kecewa, lagu putus cinta ini bisa membuat si dia mengerti lebih dalam perasaan Anda.

Hmmm… karena cara ini A – Z, berarti masih ada banyak cara lain ya? Bagaimana menurut Anda? (kpl/bee
Diposting oleh Moh. Jazuli
Sumber Artikel : http://falyhz.blogspot.com/2009/10/perbedaan-teori-sigmund-freud-dan-erik.html .... Tahap-tahap ini sangat penting bagi pembentukan sifat-sifat kepribadian yang bersifat menetap. Menurut Freud, kepribadian orang terbentuk pada usia sekitar 5-6 tahun yaitu: (1) tahap oral, Mouth rule (menghisap, menggigit, mengunyah), Lima mode pada tahap oral yang .... 5. Identitas dan Penolakan VS difusi Identitas ( masa remaja: 12-20 tahun). Tahap perkembangan sebelumnya memberi kontribusi yang berarti pada pembentukkan Identitas dapat terjadi krisis identitas. ...

Sumber Artikel : http://midoriinstitute.wordpress.com/2009/09/30/remaja-dan-perkembangannya/ .... Banyak sekali permasalahan yang terjadi pada usia yang dianggap sebagai usia penuh gejolak. Untuk dapat memahami remaja, harus dilihat dari konteks remaja sebagai salah satu tahapan dalam perkembangan manusia. ... Pada masing-masing tahap tersebut, seseorang harus menyelesaikan tugas perkembangannya untuk membentuk kualitas ego yang dinginkan. 1. Kepercayaan Dasar vs Kecurigaan Dasar (0-1 tahun). Tahap awal dari perkembangan psikososial adalah pada masa bayi. ...

Sumber Artikel : http://diahseptilina.blogspot.com/2009/09/perbedaan-teori-perkembangan.html .... Tahap ini berlangsung pada masa oral, kira-kira terjadi pada umur 0-1 atau 1 ½ tahun. Tugas yang harus dijalani pada tahap ini adalah menumbuhkan dan mengembangkan kepercayaan tanpa harus menekan kemampuan untuk hadirnya suatu ketidakpercayaan. ... Tahap ketiga adalah tahap kelamin-lokomotor (genital-locomotor stage) atau yang biasa disebut tahap bermain. Tahap ini pada suatu periode tertentu saat anak menginjak usia 3 sampai 5 atau 6 tahun, dan tugas yang harus diemban ...

Sumber Artikel : http://chanatha.wordpress.com/2009/09/28/sigmund-freud/ .... Dalam teori Freud setiap manusia harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalam proses menjadi dewasa. Tahap-tahap ini sangat penting bagi pembentukan sifat-sifat kepribadian yang bersifat menetap. Menurut Freud kepribadian orang terbentuk pada usia sekitar 5-6 tahun. Freud membagi perekembangan manusia menjadi 6 fase, yaitu: • tahap oral (0-1 tahun) • tahap anal (1-3 tahun) • tahap falik (3-6 tahun) • tahap laten (6-12 tahun) • tahap genetal (12 tahun ke atas) ...

Sumber Artikel : http://www.sabdaspace.org/memahami_perkembangan_anak .... Perkembangan PSYCHO-SOSIAL Menurut ERICK ERICKSON perkembangan Psycho-sosial atau perkembangan jiwa manusia yang dipengaruhi oleh masyarakat dibagi menjadi 8 tahap: 1. Trust >< Mistrust (usia 0-1 tahun) Tahap pertama adalah tahap ...

Sumber Artikel : http://www.bundaananda.com/?p=443 .... Yang jelas, dengan memahami cara manusia bernalar, Anda juga dapat merancang kegiatan apa yang sesuai bagi si kecil sesuai usianya ( Lihat boks: Tahap Perkembangan Logika Balita ). Daya nalar berkembang. Pernahkah Anda melihat si satu tahun asyik ... Perkembangan. 0 -1 tahun, Mengamati dan mengeksplorasi benda di sekitarnya. 1 - 2 tahun, Mengelompokkan benda berdasarkan warna atau fungsi. 2 - 4 tahun, Menyusun benda berdasarkan urutan dari kecil ke besar, bisa mengukur. ...

Sumber Artikel : http://muhamadsb-tekhnologipendidikan.blogspot.com/2009/08/pendidikan-anak-usia-dini.html .... Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, ... Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara, PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun. Ruang Lingkup Pendidikan Anak Usia Dini * Infant (0-1 tahun) * Toddler (2-3 tahun) ...
Diposting oleh Moh. Jazuli
Manajemen Berbasis Sekolah

Website ini merupakan bagian dari Pendidikan Network Indonesia dan tujuan utama kami adalah pengembangan pendidikan di Indonesia. Tetapi, kami sudah menerima beberapa surat yang mengucapkan terima kasih dari konsultan-konsultan pendidikan yang sedang bekerja di negara lain yang sedang berkembang. Kami ingin mengumpulkan sebanyak mungkin informasi praktis dari mereka yang berpengalaman di lapangan - supaya dapat digunakan oleh semua negara yang sedang berkembang (developing country). Di bidang pendidikan, negara mana yang tidak dapat disebut developing country?

Sebelum desentralisasi, beberapa sekolah di Indonesia sudah melaksanakan proses Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) secara mandiri dan mereka mampu mengatasi banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan pengembangan sekolah secara internal. Sekolah-sekolah ini, sebagian yang didaftar (sebelah kiri), disebut sebagai pelopor, dan perkembangannya sebenarnya cukup hebat. Kepala sekolah juga termasuk berani kalau kita melihat keadaan lingkungan dan paradigma sistem manajemen pendidikan saat itu.

Sekarang, di beberapa propinsi di Indonesia kami mulai dapat melihat kemampuan sebenarnya dari MBS karena dukungan yang diberikan dari Pemerintah Daerah dan Dinas Pendidikan. Transformasi yang dilaksanakan luar biasa. Proses MBS tidak dapat disebut baru di Indonesia, tetapi pelaksanaan sekarang dibuktikan dapat mengubah kebudayaan dan sistem supaya pengembangannya menjadi efektif dan "sustainable".

Apa yang membuat implementasi sekarang menjadi efektif?
Dasarnya adalah - Manajemen implementasi yang bagus. Seperti semua inisiatif yang lain, manajemen yang bagus adalah kunci untuk implementasi yang afektif. Bila perubahan sistemik dilaksanakan tanpa perubahan kebudayaan organisasi, implementasinya sering gagal dan kembali ke keadaan sebelumnya, seperti kita sudah melihat dulu setelah kepala sekolah yang mendorong prosesnya dipindahkan ke sekolah yang lain.

Untuk implementasi yang bagus semua stakeholder harus sangat mengerti peran mereka masing-masing. Sesuai dengan etos MBS peran mereka tidak dapat dipastikan dari awal secara hitam di atas putih, mereka perlu, secara proses terbuka, mendiskusikan dan menukar pikiran supaya peran mereka yang paling mendukung guru di lapangan dan proses belajar-mengajar secara maksimal dapat ditentukan. Di dalam program baru, tidak ada peserta (stakeholder) yang dianggap superior, semua stakeholder walau mereka adalah Dewan Pendidikan, guru baru, atau orang tua yang petani, membawa input (pengalaman) dan kebutuhan mereka ke meja diskusi untuk mencari jalan terbaik untuk membantu stakeholder yang lain maupun keperluan mereka sendiri. Sekarang, yang juga sangat mendukung prosesnya adalah kita sekalian mengimplementasikan PAKEM (Contextual Learning).
PAKEM - Contextual Learning

Bila proses-proses di atas sudah diikuti dengan baik, dan berjalan secara efektif kita seharusnya dapat melihat situasi pengajaran dan pelajaran yang lebih baik, tetapi bila kita tidak mulai menghadapi hal cara siswa kita belajar, dan apa yang mereka pelajari keuntungan mungkin tidak dapat dilihat dari hasil karya mereka (outcomes). Yang pertama, apa maksud kami "apa yang mereka pelajari". Maksud kami bukan kurikulum, kurikulumnya tidak akan diubah. Yang kami maksud adalah mereka perlu mulai belajar mengenai cara mereka belajar (learning how to learn), cara belajar secara penemuan (discovery), secara kreatif, analisa, dan kritis, supaya mereka dapat menjadi pelajar selama hidup (life-long learners) yang efektif.
Bacaan tertarik: Untuk apa pendidikan?

Yang kedua, "cara siswa kita belajar", apa itu PAKEM (Contextual Learning)?
"A conception that helps teachers relate subject matter content to real world situations and motivates students to make connections between knowledge and its applications to their lives as family members, citizens, and workers." (BEST, 2001).
Satu konsep yang membantu guru-guru menghubungkan isinya mata pelajaran dengan situasi keadaan di dunia (real world) dan memotivasikan siswa/i untuk lebih paham hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya kepada hidup mereka sebagai anggota keluarga, masyarakat, dan karyawan-karyawan.

PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Fokus PAKEM adalah pada kegiatan siswa di dalam bentuk group, individu, dan kelas, partisipasi di dalam proyek, penelitian, penelidikan, penemuan, dan beberapa macan strategi yang hanya dibatas dari imaginasi guru.

Phillip Rekdale (Jakarta, November 2005)

Website ini sebagai percobaan untuk menggunakan teknologi yang dapat membantu sosialisasi prinsip-prinsip MBS. Kami akan berusaha untuk memasang informasi yang praktis dan baru dari lapangan mengenai perkembangan sekolah. Tetapi, yang sangat penting untuk sekolah di lapangan adalah informasi, khusus contoh-contoh perkembangan yang langsung dari lapangan. Sekolah-sekolah yang sudah mengimplementasikan program sejenis MBS (berdasar lingkungan sekolah) Mohon mengirim informasi mengenai perkembangan anda ke SchoolDevelopment.Net supaya informasi anda dapat membantu sekolah lain.
Diposting oleh Moh. Jazuli
Visit the Site
MARVEL and SPIDER-MAN: TM & 2007 Marvel Characters, Inc. Motion Picture © 2007 Columbia Pictures Industries, Inc. All Rights Reserved. 2007 Sony Pictures Digital Inc. All rights reserved. blogger template by blog forum