Awal Mula

Embrio kelahiran scene musik rock underground di Indonesia sulit dilepaskan dari evolusi rocker-rocker pionir era 70-an sebagai pendahulunya. Sebut saja misalnya God Bless, Gang Pegangsaan, Gypsy (Jakarta), Giant Step, Super Kid (Bandung), Terncem (Solo), AKA/SAS (Surabaya), Bentoel (Malang) hingga Rawe Rontek dari Banten. Mereka inilah generasi pertama rocker Indonesia. Istilah underground sendiri sebenarnya sudah digunakan Majalah Aktuil sejak awal era 70- an. Istilah tersebut digunakan majalah musik dan gaya hidup pionir asal Bandung itu untuk mengidentifikasi band-band yang memainkan musik keras dengan gaya yang lebih `liar’ dan `ekstrem’ untuk ukuran jamannya. Padahal kalau mau jujur, lagu-lagu yang dimainkan band- band tersebut di atas bukanlah lagu karya mereka sendiri, melainkan milik band-band luar negeri macam Deep Purple, Jefferson Airplane, Black Sabbath, Genesis, Led Zeppelin, Kansas, Rolling Stones hingga ELP. Tradisi yang kontraproduktif ini kemudian mencatat sejarah namanya sempat mengharum di pentas nasional. Sebut saja misalnya El Pamas, Grass Rock (Malang), Power Metal (Surabaya), Adi Metal Rock (Solo), Val Halla (Medan) hingga Roxx (Jakarta). Selain itu Log jugalah yang membidani lahirnya label rekaman rock yang pertama di Indonesia, Logiss Records. Produk pertama label ini adalah album ketiga God Bless, “Semut Hitam” yang dirilis tahun 1988 dan ludes hingga 400.000 kaset di seluruh Indonesia.

Menjelang akhir era 80-an, di seluruh dunia waktu itu anak-anak muda sedang mengalami demam musik thrash metal. Sebuah perkembangan style musik metal yang lebih ekstrem lagi dibandingkan heavy metal. Band- band yang menjadi gods-nya antara lain Slayer, Metallica, Exodus, Megadeth, Kreator, Sodom, Anthrax hingga Sepultura. Kebanyakan kota- kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Malang hingga Bali, scene undergroundnya pertama kali lahir dari genre musik ekstrem tersebut. Di Jakarta sendiri komunitas metal pertama kali tampil di depan publik pada awal tahun 1988. Komunitas anak metal (saat itu istilah underground belum populer) ini biasa hang out di Pid Pub, sebuah pub kecil di kawasan pertokoan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Menurut Krisna J. Sadrach, frontman Sucker Head, selain nongkrong, anak-anak yang hang out di sana oleh Tante Esther, owner Pid Pub, diberi kesempatan untuk bisa manggung di sana. Setiap malam minggu biasanya selalu ada live show dari band-band baru di Pid Pub dan kebanyakan band-band tersebut mengusung musik rock atau metal.

Band-band yang sering hang out di scene Pid Pub ini antara lain Roxx (Metallica & Anthrax), Sucker Head (Kreator & Sepultura), Commotion Of Resources (Exodus), Painfull Death, Rotor (Kreator), Razzle (GN’R), Parau (DRI & MOD), Jenazah, Mortus hingga Alien Scream (Obituary). Beberapa band diatas pada perjalanan berikutnya banyak yang membelah diri menjadi band-band baru. Commotion Of Resources adalah cikal bakal band gothic metal Getah, sedangkan Parau adalah embrio band death metal lawas Alien Scream. Selain itu Oddie, vokalis Painfull Death selanjutnya membentuk grup industrial Sic Mynded di Amerika Serikat bersama Rudi Soedjarwo (sutradara Ada Apa Dengan Cinta?). Rotor sendiri dibentuk pada tahun 1992 setelah cabutnya gitaris Sucker Head, Irvan Sembiring yang merasa konsep musik Sucker Head saat itu masih kurang ekstrem baginya.

Semangat yang dibawa para pendahulu ini memang masih berkutat pola tradisi `sekolah lama’, bangga menjadi band cover version! Di antara mereka semua, hanya Roxx yang beruntung bisa rekaman untuk single pertama mereka, “Rock Bergema”. Ini terjadi karena mereka adalah salah satu finalis Festival Rock Se-Indonesia ke-V. Mendapat kontrak rekaman dari label adalah obsesi yang terlalu muluk saat itu. Jangankan rekaman, demo rekaman bisa diputar di radio saja mereka sudah bahagia. Saat itu stasiun radio yang rutin mengudarakan musik- musik rock/metal adalah Radio Bahama, Radio Metro Jaya dan Radio SK. Dari beberapa radio tersebut mungkin yang paling legendaris adalah Radio Mustang. Mereka punya program bernama Rock N’ Rhythm yang mengudara setiap Rabu malam dari pukul 19.00 – 21.00 WIB. Stasiun radio ini bahkan sempat disatroni langsung oleh dedengkot thrash metal Brasil, Sepultura, kala mereka datang ke Jakarta bulan Juni 1992. Selain medium radio, media massa yang kerap mengulas berita- berita rock/metal pada waktu itu hanya Majalah HAI, Tabloid Citra Musik dan Majalah Vista.

Selain hang out di Pid Pub tiap akhir pekan, anak-anak metal ini sehari-harinya nongkrong di pelataran Apotik Retna yang terletak di daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Beberapa selebritis muda yang dulu sempat nongkrong bareng (groupies?) anak-anak metal ini antara lain Ayu Azhari, Cornelia Agatha, Sophia Latjuba, Karina Suwandi hingga Krisdayanti. Aktris Ayu Azhari sendiri bahkan sempat dipersunting sebagai istri oleh (alm) Jodhie Gondokusumo yang merupakan vokalis Getah dan juga
mantan vokalis Rotor.

Tak seberapa jauh dari Apotik Retna, lokasi lain yang sering dijadikan lokasi rehearsal adalah Studio One Feel yang merupakan studio latihan paling legendaris dan bisa dibilang hampir semua band- band rock/metal lawas ibukota pernah rutin berlatih di sini. Selain Pid Pub, venue alternatif tempat band-band rock underground manggung pada masa itu adalah Black Hole dan restoran Manari Open Air di Museum Satria Mandala (cikal bakal Poster Café). Di luar itu, pentas seni MA dan acara musik kampus sering kali pula di “infiltrasi” oleh band-band metal tersebut. Beberapa pensi yang historikal di antaranya adalah Pamsos (SMA 6 Bulungan), PL Fair (SMA Pangudi Luhur), Kresikars (SMA 82), acara musik kampus Universitas Nasional (Pejaten), Universitas Gunadarma, Universitas Indonesia (Depok), Unika Atmajaya Jakarta, Institut Teknologi Indonesia (Serpong) hingga Universitas Jayabaya (Pulomas).

Berkonsernya dua supergrup metal internasional di Indonesia, Sepultura (1992) dan Metallica (1993) memberi kontribusi cukup besar bagi perkembangan band-band metal sejenis di Indonesia. Tak berapa lama setelah Sepultura sukses “membakar” Jakarta dan Surabaya, band speed metal Roxx merilis album debut self-titled mereka di bawah label Blackboard. Album kaset ini kelak menjadi salah satu album speed metal klasik Indonesia era 90-an. Hal yang sama dialami pula oleh Rotor. Sukses membuka konser fenomenal Metallica selama dua hari berturut-turut di Stadion Lebak Bulus, Rotor lantas merilis album thrash metal major labelnya yang pertama di Indonesia, Behind The 8th Ball (AIRO). Bermodalkan rekomendasi dari manajer tur Metallica dan honor 30 juta rupiah hasil dua kali membuka konser Metallica, para personel Rotor (minus drummer Bakkar Bufthaim) lantas eksodus ke negeri Paman Sam untuk mengadu nasib. Sucker Head sendiri tercatat paling telat dalam merilis album debut dibanding band seangkatan mereka lainnya. Setelah dikontrak major label lokal, Aquarius Musikindo, baru di awal 1995 mereka merilis album `The Head Sucker’. Hingga kini Sucker Head tercatat sudah merilis empat buah album.

Dari sedemikian panjangnya perjalanan rock underground di tanah air, mungkin baru di paruh pertama dekade 90-anlah mulai banyak terbentuk scene-scene underground dalam arti sebenarnya di Indonesia. Di Jakarta sendiri konsolidasi scene metal secara masif berpusat di Blok M sekitar awal 1995. Kala itu sebagian anak-anak metal sering terlihat nongkrong di lantai 6 game center Blok M Plaza dan di sebuah resto waralaba terkenal di sana. Aktifitas mereka selain hang out adalah bertukar informasi tentang band-band lokal dan internasional, barter CD, jual-beli t-shirt metal hingga merencanakan pengorganisiran konser. Sebagian lagi yang lainnya memilih hang out di basement Blok Mall yang kebetulan letaknya berada di bawah tanah.

Pada era ini hype musik metal yang masif digandrungi adalah subgenre yang makin ekstrem yaitu death metal, brutal death metal, grindcore, black metal hingga gothic/doom metal. Beberapa band yang makin mengkilap namanya di era ini adalah Grausig, Trauma, Aaarghhh, Tengkorak, Delirium Tremens, Corporation of Bleeding, Adaptor, Betrayer, Sadistis, Godzilla dan sebagainya. Band grindcore Tengkorak pada tahun 1996 malah tercatat sebagai band yang pertama kali merilis mini album secara independen di Jakarta dengan judul `It’s A Proud To Vomit Him’. Album ini direkam secara profesional di Studio Triple M, Jakarta dengan sound engineer Harry Widodo (sebelumnya pernah menangani album Roxx, Rotor, Koil, Puppen dan PAS).

Tahun 1996 juga sempat mencatat kelahiran fanzine musik underground pertama di Jakarta, Brainwashed zine. Edisi pertama Brainwashed terbit 24 halaman dengan menampilkan cover Grausig dan profil band Trauma, Betrayer serta Delirium Tremens. Diketik di komputer berbasis system operasi Windows 3.1 dan lay-out cut n’ paste tradisional, Brainwashed kemudian diperbanyak 100 eksemplar dengan mesin foto kopi milik saudara penulis sendiri. Di edisi-edisi berikutnya Brainwashed mengulas pula band-band hardcore, punk bahkan ska. Setelah terbit fotokopian hingga empat edisi, di tahun 1997 Brainwashed sempat dicetak ala majalah profesional dengan cover penuh warna. Hingga tahun 1999 Brainwashed hanya kuat terbit hingga tujuh edisi, sebelum akhirnya di tahun 2000 penulis menggagas format e-zine di internet (www.bisik.com). Media-media serupa yang selanjutnya lebih konsisten terbit di Jakarta antara lain Morbid Noise zine, Gerilya zine, Rottrevore zine, Cosmic zine dan sebagainya.

29 September 1996 menandakan dimulainya sebuah era baru bagi perkembangan rock underground di Jakarta. Tepat pada hari itulah digelar acara musik indie untuk pertama kalinya di Poster Café. Acara bernama “Underground Session” ini digelar tiap dua minggu sekali pada malam hari kerja. Café legendaris yang dimiliki rocker gaek Ahmad Albar ini banyak melahirkan dan membesarkan scene musik indie baru yang memainkan genre musik berbeda dan lebih variatif. Lahirnya scene Brit/indie pop, ledakan musik ska yang fenomenal era 1997 – 2000 sampai tawuran massal bersejarah antara sebagian kecil massa Jakarta dengan Bandung terjadi juga di tempat ini. Getah, Brain The Machine, Stepforward, Dead Pits, Bloody Gore, Straight Answer, Frontside, RU Sucks, Fudge, Jun Fan Gung Foo, Be Quiet, Bandempo, Kindergarten, RGB, Burning Inside, Sixtols, Looserz, HIV, Planet Bumi, Rumahsakit, Fable, Jepit Rambut, Naif, Toilet Sounds, Agus Sasongko & FSOP adalah sebagian kecil band-band yang `kenyang’ manggung di sana.

10 Maret 1999 adalah hari kematian scene Poster Café untuk selama- lamanya. Pada hari itu untuk terakhir kalinya diadakan acara musik di sana (Subnormal Revolution) yang berujung kerusuhan besar antara massa punk dengan warga sekitar hingga berdampak hancurnya beberapa mobil dan unjuk giginya aparat kepolisian dalam membubarkan massa. Bubarnya Poster Café diluar dugaan malah banyak melahirkan venue- venue alternatif bagi masing-masing scene musik indie. Café Kupu- Kupu di Bulungan sering digunakan scene musik ska, Pondok Indah Waterpark, GM 2000 café dan Café Gueni di Cikini untuk scene Brit/indie pop, Parkit De Javu Club di Menteng untuk gigs punk/hardcore dan juga indie pop. Belakangan BB’s Bar yang super- sempit di Menteng sering disewa untuk acara garage rock-new wave-mellow punk juga rock yang kini sedang hot, seperti The Upstairs, Seringai, The Brandals, C’mon Lennon, Killed By Butterfly, Sajama Cut, Devotion dan banyak lagi. Di antara semuanya, mungkin yang paling `netral’ dan digunakan lintas-scene cuma Nirvana Café yang terletak di basement Hotel Maharadja, Jakarta Selatan. Di tempat ini pulalah, 13 Januari 2002 silam, Puppen `menghabisi riwayat’ mereka dalam sebuah konser bersejarah yang berjudul, “Puppen : Last Show Ever”, sebuah rentetan show akhir band Bandung ini sebelum membubarkan diri.


Scene Punk/Hardcore/Brit/Indie Pop

Invasi musik grunge/alternative dan dirilisnya album Kiss This dari Sex Pistols pada tahun 1992 ternyata cukup menjadi trigger yang ampuh dalam melahirkan band-band baru yang tidak memainkan musik metal. Misalnya saja band Pestol Aer dari komunitas Young Offender yang diawal kiprahnya sering meng-cover lagu-lagu Sex Pistols lengkap dengan dress-up punk dan haircut mohawknya. Uniknya, pada perjalanan selanjutnya, sekitar tahun 1994, Pestol Aer kemudian mengubah arah musik mereka menjadi band yang mengusung genre british/indie pop ala The Stone Roses. Konon, peristiwa historik ini kemudian menjadi momen yang cukup signifikan bagi perkembangan scene british/indie pop di Jakarta. Sebelum bubar, di pertengahan 1997 mereka sempat merilis album debut bertitel `…Jang Doeloe’. Generasi awal dari scene brit pop ini antara lain adalah band Rumahsakit, Wondergel, Planet Bumi, Orange, Jellyfish, Jepit Rambut, Room-V, Parklife hingga Death Goes To The Disco.

Pestol Aer memang bukan band punk pertama, ibukota ini di tahun 1989 sempat melahirkan band punk/hardcore pionir Antiseptic yang kerap memainkan nomor-nomor milik Black Flag, The Misfits, DRI sampai Sex Pistols. Lukman (Waiting Room/The Superglad) dan Robin (Sucker Head/Noxa) adalah alumnus band ini juga. Selain sering manggung di Jakarta, Antiseptic juga sempat manggung di rockfest legendaris Bandung, Hullabaloo II pada akhir 1994. Album debut Antiseptic sendiri yang bertitel `Finally’ baru rilis delapan tahun kemudian (1997) secara D.I.Y. Ada juga band alternatif seperti Ocean yang memainkan musik ala Jane’s Addiction dan lainnya, sayangnya mereka tidak sempat merilis rekaman.

Selain itu, di awal 1990, Jakarta juga mencetak band punk rock The Idiots yang awalnya sering manggung meng-cover lagu-lagu The Exploited. Nggak jauh berbeda dengan Antiseptic, baru sembilan tahun kemudian The Idiots merilis album debut mereka yang bertitel `Living Comfort In Anarchy’ via label indie Movement Records. Komunitas-komunitas punk/hardcore juga menjamur di Jakarta pada era 90-an tersebut. Selain komunitas Young Offender tadi, ada pula komunitas South Sex (SS) di kawasan Radio Dalam, Subnormal di Kelapa Gading, Semi-People di Duren Sawit, Brotherhood di Slipi, Locos di Blok M hingga SID Gank di Rawamangun.

Sementara rilisan klasik dari scene punk/hardcore Jakarta adalah album kompilasi Walk Together, Rock Together (Locos Enterprise) yang rilis awal 1997 dan memuat singel antara lain dari band Youth Against Fascism, Anti Septic, Straight Answer, Dirty Edge dan sebagainya. Album kompilasi punk/hardcore klasik lainnya adalah Still One, Still Proud (Movement Records) yang berisikan singel dari Sexy Pig, The Idiots, Cryptical Death hingga Out Of Control.

Bandung scene

Di Bandung sekitar awal 1994 terdapat studio musik legendaris yang menjadi cikal bakal scene rock underground di sana. Namanya Studio Reverse yang terletak di daerah Sukasenang. Pembentukan studio ini digagas oleh Richard Mutter (saat itu drummer PAS) dan Helvi. Ketika semakin berkembang Reverse lantas melebarkan sayap bisnisnya dengan membuka distro (akronim dari distribution) yang menjual CD, kaset, poster, t-shirt, serta berbagai aksesoris import lainnya. Selain distro, Richard juga sempat membentuk label independen 40.1.24 yang rilisan pertamanya di tahun 1997 adalah kompilasi CD yang bertitel “Masaindahbangetsekalipisan.” Band-band indie yang ikut serta di kompilasi ini antara lain adalah Burger Kill, Puppen, Papi, Rotten To The Core, Full of Hate dan Waiting Room, sebagai satu- satunya band asal Jakarta.

Band-band yang sempat dibesarkan oleh komunitas Reverse ini antara lain PAS dan Puppen. PAS sendiri di tahun 1993 menorehkan sejarah sebagai band Indonesia yang pertama kali merilis album secara independen. Mini album mereka yang bertitel “Four Through The S.A.P” ludes terjual 5000 kaset dalam waktu yang cukup singkat. Mastermind yang melahirkan ide merilis album PAS secara independen tersebut adalah (alm) Samuel Marudut. Ia adalah Music Director Radio GMR, sebuah stasiun radio rock pertama di Indonesia yang kerap memutar demo-demo rekaman band-band rock amatir asal Bandung, Jakarta dan sekitarnya. Tragisnya, di awal 1995 Marudut ditemukan tewas tak bernyawa di kediaman Krisna Sucker Head di Jakarta. Yang mengejutkan, kematiannya ini, menurut Krisna, diiringi lagu The End dari album Best of The Doors yang diputarnya pada tape di kamar Krisna. Sementara itu Puppen yang dibentuk pada tahun 1992 adalah salah satu pionir hardcore lokal yang hingga akhir hayatnya di tahun 2002 sempat merilis tiga album yaitu, Not A Pup E.P. (1995), MK II (1998) dan Puppen s/t (2000). Kemudian menyusul Pure Saturday dengan albumnya yang self-titled. Album ini kemudian dibantu promosinya oleh Majalah Hai. Kubik juga mengalami hal yang sama, dengan cara bonus kaset 3 lagu sebelum rilis albumnya.

Agak ke timur, masih di Bandung juga, kita akan menemukan sebuah komunitas yang menjadi episentrum underground metal di sana, komunitas Ujung Berung. Dulunya di daerah ini sempat berdiri Studio Palapa yang banyak berjasa membesarkan band-band underground cadas macam Jasad, Forgotten, Sacrilegious, Sonic Torment, Morbus Corpse, Tympanic Membrane, Infamy, Burger Kill dan sebagainya. Di sinilah kemudian pada awal 1995 terbit fanzine musik pertama di Indonesia yang bernama Revograms Zine. Editornya Dinan, adalah vokalis band Sonic Torment yang memiliki single unik berjudul “Golok Berbicara”. Revograms Zine tercatat sempat tiga kali terbit dan kesemua materi isinya membahas band-band metal/hardcore lokal maupun internasional.

Kemudian taklama kemudian fanzine indie seperti Swirl, Tigabelas, Membakar Batas dan yang lainnya ikut meramaikan media indie. Ripple dan Trolley muncul sebagai majalah yang membahas kecenderungan subkultur Bandung dan jug lifestylenya. Trolley bangkrut tahun 2002, sementara Ripple berubah dari pocket magazine ke format majalah standar. Sementara fanzine yang umumnya fotokopian hingga kini masih terus eksis. Serunya di Bandung tak hanya musik ekstrim yang maju tapi juga scene indie popnya. Sejak Pure Saturday muncul, berbagai band indie pop atau alternatif, seperti Cherry Bombshell, Sieve, Nasi Putih hingga yang terkini seperti The Milo, Mocca, Homogenic. Begitu pula scene ska yang sebenarnya sudah ada jauh sebelum trend ska besar. Band seperti Noin Bullet dan Agent Skins sudah lama mengusung genre musik ini.

Siapapun yang pernah menyaksikan konser rock underground di Bandung pasti takkan melupakan GOR Saparua yang terkenal hingga ke berbagai pelosok tanah air. Bagi band-band indie, venue ini laksana gedung keramat yang penuh daya magis. Band luar Bandung manapun kalau belum di `baptis’ di sini belum afdhal rasanya. Artefak subkultur bawah tanah Bandung paling legendaris ini adalah saksi bisu digelarnya beberapa rock show fenomenal seperti Hullabaloo, Bandung Berisik hingga Bandung Underground. Jumlah penonton setiap acara-acara di atas tergolong spektakuler, antara 5000 – 7000 penonton! Tiket masuknya saja sampai diperjualbelikan dengan harga fantastis segala oleh para calo. Mungkin ini merupakan rekor tersendiri yang belum terpecahkan hingga saat ini di Indonesia untuk ukuran rock show underground.

Sempat dijuluki sebagai barometer rock underground di Indonesia, Bandung memang merupakan kota yang menawarkan sejuta gagasan-gagasan cerdas bagi kemajuan scene nasional. Booming distro yang melanda seluruh Indonesia saat ini juga dipelopori oleh kota ini. Keberhasilan menjual album indie hingga puluhan ribu keping yang dialami band Mocca juga berawal dari kota ini. Bahkan Burger Kill, band hardcore Indonesia yang pertama kali teken kontrak dengan major label, Sony Music Indonesia, juga dibesarkan di kota ini. Belum lagi majalah Trolley (RIP) dan Ripple yang seakan menjadi reinkarnasi Aktuil di jaman sekarang, tetap loyal memberikan porsi terbesar liputannya bagi band-band indie lokal keren macam Koil, Kubik, Balcony, The Bahamas, Blind To See, Rocket Rockers, The Milo, Teenage Death Star, Komunal hingga The S.I.G.I.T. Coba cek webzine Bandung, Death Rock Star (www.deathrockstar.tk) untuk membuktikannya. Asli, kota yang satu ini memang nggak ada matinya!

Scene Jogjakarta

Kota pelajar adalah julukan formalnya, tapi siapa sangka kalau kota ini ternyata juga menjadi salah satu scene rock underground terkuat di Indonesia? Well, mari kita telusuri sedikit sejarahnya. Komunitas metal underground Jogjakarta salah satunya adalah Jogja Corpsegrinder. Komunitas ini sempat menerbitkan fanzine metal Human Waste, majalah Megaton dan menggelar acara metal legendaris di sana, Jogja Brebeg. Hingga kini acara tersebut sudah terselenggara sepuluh kali! Band-band metal underground lawas dari kota ini antara lain Death Vomit, Mortal Scream, Impurity, Brutal Corpse, Mystis, Ruction.

Untuk scene punk/hardcore/industrial-nya yang bangkit sekitar awal 1997 tersebutlah nama Sabotage, Something Wrong, Noise For Violence, Black Boots, DOM 65, Teknoshit hingga yang paling terkini, Endank Soekamti. Sedangkan untuk scene indie rock/pop, beberapa nama yang patut di highlight adalah Seek Six Sick, Bangkutaman, Strawberry’s Pop sampai The Monophones. Selain itu, band ska paling keren yang pernah terlahir di Indonesia, Shaggy Dog, juga berasal dari kota ini. Shaggy Dog yang kini dikontrak EMI belakangan malah sedang asyik menggelar tur konser keliling Eropa selama 3 bulan! Kota gudeg ini tercatat juga pernah menggelar Parkinsound, sebuah festival musik elektronik yang pertama di Indonesia. Parkinsound #3 yang diselenggarakan tanggal 6 Juli 2001 silam di antaranya menampilkan Garden Of The Blind, Mock Me Not, Teknoshit, Fucktory, Melancholic Bitch hingga
Mesin Jahat.

Scene Surabaya

Scene underground rock di Surabaya bermula dengan semakin tumbuh-berkembangnya band-band independen beraliran death metal/grindcore sekitar pertengahan tahun 1995. Sejarah terbentuknya berawal dari event Surabaya Expo (semacam Jakarta Fair di DKI - Red) dimana band- band underground metal seperti, Slowdeath, Torture, Dry, Venduzor, Bushido manggung di sebuah acara musik di event tersebut.

Setelah event itu masing-masing band tersebut kemudian sepakat untuk mendirikan sebuah organisasi yang bernama Independen. Base camp dari organisasi yang tujuan dibentuknya sebagai wadah pemersatu serta sarana sosialisasi informasi antar musisi/band underground metal ini waktu itu dipusatkan di daerah Ngagel Mulyo atau tepatnya di studio milik band Retri Beauty (band death metal dengan semua personelnya cewek, kini RIP - Red). Anggota dari organisasi yang merupakan cikal bakal terbentuknya scene underground metal di Surabaya ini memang sengaja dibatasi hanya sekitar 7-10 band saja.

Rencana pertama Independen waktu itu adalah menggelar konser underground rock di Taman Remaja, namun rencana ini ternyata gagal karena kesibukan melakukan konsolidasi di dalam scene. Setelah semakin jelas dan mulai berkembangnya scene underground metal di Surabaya pada akhir bulan Desember 1997 organisasi Independen resmi dibubarkan. Upaya ini dilakukan demi memperluas jaringan agar semakin tidak tersekat-sekat atau menjadi terkotak-kotak komunitasnya.

Pada masa-masa terakhir sebelum bubarnya organisasi Independen, divisi record label mereka tercatat sempat merilis beberapa buah album milik band-band death metal/grindcore Surabaya. Misalnya debut album milik Slowdeath yang bertitel “From Mindless Enthusiasm to Sordid Self-Destruction” (September 96), debut album Dry berjudul “Under The Veil of Religion” (97), Brutal Torture “Carnal Abuse”, Wafat “Cemetery of Celerage” hingga debut album milik Fear Inside yang bertitel “Mindestruction”. Tahun-tahun berikutnya barulah underground metal di Surabaya dibanjiri oleh rilisan-rilisan album milik Growl, Thandus, Holy Terror, Kendath hingga Pejah.

Sebagai ganti Independen kemudian dibentuklah Surabaya Underground Society (S.U.S) tepat di malam tahun baru 1997 di kampus Universitas 45, saat diselenggarakannya event AMUK I. Saat itu di Surabaya juga telah banyak bermunculan band-band baru dengan aliran musik black metal. Salah satu band death metal lama yaitu, Dry kemudian berpindah konsep musik seiring dengan derasnya pengaruh musik black metal di Surabaya kala itu.

Hanya bertahan kurang lebih beberapa bulan saja, S.U.S di tahun yang sama dilanda perpecahan di dalamnya. Band-band yang beraliran black metal kemudian berpisah untuk membentuk sebuah wadah baru bernama ARMY OF DARKNESS yang memiliki basis lokasi di daerah Karang Rejo. Berbeda dengan black metal, band-band death metal selanjutnya memutuskan tidak ikut membentuk organisasi baru. Selanjutnya di bulan September 1997 digelar event AMUK II di IKIP Surabaya. Event ini kemudian mencatat sejarah sendiri sebagai event paling sukses di Surabaya kala itu. 25 band death metal dan black metal tampil sejak pagi hingga sore hari dan ditonton oleh kurang lebih 800 – 1000 orang. Arwah, band black metal asal Bekasi juga turut tampil di even tersebut sebagai band undangan.

Scene ekstrem metal di Surabaya pada masa itu lebih banyak didominasi oleh band-band black metal dibandingkan band death metal/grindcore. Mereka juga lebih intens dalam menggelar event-event musik black metal karena banyaknya jumlah band black metal yang muncul. Tercatat kemudian event black metal yang sukses digelar di Surabaya seperti ARMY OF DARKNESS I dan II.

Tepat tanggal 1 Juni 1997 dibentuklah komunitas underground INFERNO 178 yang markasnya terletak di daerah Dharma Husada (Jl. Prof. DR. Moestopo,Red). Di tempat yang agak mirip dengan rumah-toko (Ruko) ini tercatat ada beberapa divisi usaha yaitu, distro, studio musik, indie label, fanzine, warnet dan event organizer untuk acara-acara underground di Surabaya. Event-event yang pernah di gelar oleh INFERNO 178 antara lain adalah, STOP THE MADNESS, TEGANGAN TINGGI I & II hingga BLUEKHUTUQ LIVE.

Band-band underground rock yang kini bernaung di bawah bendera INFERNO 178 antara lain, Slowdeath, The Sinners, Severe Carnage, System Sucks, Freecell, Bluekuthuq dan sebagainya. Fanzine metal asal komunitas INFERNO 178, Surabaya bernama POST MANGLED pertama kali terbit kala itu di event TEGANGAN TINGGI I di kampus Unair dengan tampilnya band-band punk rock dan metal. Acara ini tergolong kurang sukses karena pada waktu yang bersamaan juga digelar sebuah event black metal. Sayangnya, hal ini juga diikuti dengan mandegnya proses penggarapan POST MANGLED Zine yang tidak kunjung mengeluarkan edisinya yang terbaru hingga kini.

Maka, untuk mengantisipasi terjadinya stagnansi atau kesenjangan informasi di dalam scene, lahirlah kemudian GARIS KERAS Newsletter yang terbit pertama kali bulan Februari 1999. Newsletter dengan format fotokopian yang memiliki jumlah 4 halaman itu banyak mengulas berbagai aktivitas musik underground metal, punk hingga HC tak hanya di Surabaya saja tetapi lebih luas lagi. Respon positif pun menurut mereka lebih banyak datang justeru dari luar kota Surabaya itu sendiri. Entah mengapa, menurut mereka publik underground rock di Surabaya kurang apresiatif dan minim dukungannya terhadap publikasi independen macam fanzine atau newsletter tersebut. Hingga akhir hayatnya GARIS KERAS Newsletter telah menerbitkan edisinya hingga ke- 12.

Divisi indie label dari INFERNO 178 paling tidak hingga sekitar 10 rilisan album masih tetap menggunakan nama Independen sebagai nama label mereka. Baru memasuki tahun 2000 yang lalu label INFERNO 178 Productions resmi memproduksi album band punk tertua di Surabaya, The Sinners yang berjudul “Ajang Kebencian”. Selanjutnya label INFERNO 178 ini akan lebih berkonsentrasi untuk merilis produk- produk berkategori non-metal. Sedangkan untuk label khusus death metal/brutal death/grindcore dibentuklah kemudian Bloody Pigs Records oleh Samir (kini gitaris TENGKORAK) dengan album kedua Slowdeath yang bertitel “Propaganda” sebagai proyek pertamanya yang dibarengi pula dengan menggelar konser promo tunggal Slowdeath di Café Flower sekitar bulan September 2000 lalu yang dihadiri oleh 150- an penonton. Album ini sempat mencatat sold out walau masih dalam jumlah terbatas saja. Ludes 200 keping tanpa sisa.

Scene Malang

Kota berhawa dingin yang ditempuh sekitar tiga jam perjalanan dari Surabaya ini ternyata memiliki scene rock underground yang “panas” sejak awal dekade 90-an. Tersebutlah nama Total Suffer Community(T.S.C) yang menjadi motor penggerak bagi kebangkitan komunitas rock underground di Malang sejak awal 1995. Anggota komunitas ini terdiri dari berbagai macam musisi lintas-scene, namun dominasinya tetap saja anak-anak metal. Konser rock underground yang pertama kali digelar di kota Malang diorganisir pula oleh komunitas ini. Acara bertajuk Parade Musik Underground tersebut digelar di Gedung Sasana Asih YPAC pada tanggal 28 Juli 1996 dengan menampilkan band-band lokal Malang seperti Bangkai (grindcore), Ritual Orchestra (black metal), Sekarat (death metal), Knuckle Head (punk/hc), Grindpeace (industrial death metal), No Man’s Land (punk), The Babies (punk) dan juga band-band asal Surabaya, Slowdeath (grindcore) serta The Sinners (punk).

Beberapa band Malang lainnya yang patut di beri kredit antara lain Keramat, Perish, Genital Giblets, Santhet dan tentunya Rotten Corpse. Band yang terakhir disebut malah menjadi pelopor style brutal death metal di Indonesia. Album debut mereka yang bertitel “Maggot Sickness” saat itu menggemparkan scene metal di Jakarta, Bandung, Jogjakarta dan Bali karena komposisinya yang solid dan kualitas rekamannya yang top notch. Belakangan band ini pecah menjadi dua dan salah satu gitaris sekaligus pendirinya, Adyth, hijrah ke Bandung dan membentuk Disinfected. Di kota inilah lahir untuk kedua kalinya fanzine musik di Indonesia. Namanya Mindblast zine yang diterbitkan oleh dua orang scenester, Afril dan Samack pada akhir 1995. Afril sendiri merupakan eks-vokalis band Grindpeace yang kini eksis di band crust-grind gawat, Extreme Decay. Sementara indie label pionir yang hingga kini masih bertahan serta tetap produktif merilis album di Malang adalah Confused Records.

Scene Bali

Berbicara scene underground di Bali kembali kita akan menemukan komunitas metal sebagai pelopornya. Penggerak awalnya adalah komunitas 1921 Bali Corpsegrinder di Denpasar. Ikut eksis di dalamnya antara lain, Dede Suhita, Putra Pande, Age Grindcorner dan Sabdo Moelyo. Dede adalah editor majalah metal Megaton yang terbit di Jogjakarta, Putra Pande adalah salah satu pionir webzine metal Indonesia Corpsegrinder (kini Anorexia Orgasm) sejak 1998, Age adalah pengusaha distro yang pertama di Bali dan Moel adalah gitaris/vokalis band death metal etnik, Eternal Madness yang aktif menggelar konser underground di sana. Nama 1921 sebenarnya diambil dari durasi siaran program musik metal mingguan di Radio Cassanova, Bali yang berlangsung dari pukul 19.00 hingga 21.00 WITA.

Awal 1996 komunitas ini pecah dan masing-masing individunya jalan sendiri-sendiri. Moel bersama EM Enterprise pada tanggal 20 Oktober 1996 menggelar konser underground besar pertama di Bali bernama Total Uyut di GOR Ngurah Rai, Denpasar. Band-band Bali yang tampil diantaranya Eternal Madness, Superman Is Dead, Pokoke, Lithium, Triple Punk, Phobia, Asmodius hingga Death Chorus. Sementara band- band luar Balinya adalah Grausig, Betrayer (Jakarta), Jasad, Dajjal, Sacrilegious, Total Riot (Bandung) dan Death Vomit (Jogjakarta). Konser ini sukses menyedot sekitar 2000 orang penonton dan hingga sekarang menjadi festival rock underground tahunan di sana. Salah satu
alumni Total Uyut yang sekarang sukses besar ke seantero nusantara adalah band punk asal Kuta, Superman Is Dead. Mereka malah menjadi band punk pertama di Indonesia yang dikontrak 6 album oleh Sony Music Indonesia. Band-band indie Bali masa kini yang stand out di antaranya adalah Navicula, Postmen, The Brews, Telephone, Blod Shot Eyes dan tentu saja Eternal Madness yang tengah bersiap merilis album ke tiga mereka dalam waktu dekat.

Memasuki era 2000-an scene indie Bali semakin menggeliat. Kesuksesan S.I.D memberi inspirasi bagi band-band Bali lainnya untuk berusaha lebih keras lagi, toh S.I.D secara konkret sudah membuktikan kalau band `putera daerah’ pun sanggup menaklukan kejamnya industri musik ibukota. Untuk mendukung band-band Bali, drummer S.I.D, Jerinx dan beberapa kawannya kemudian membuka The Maximmum Rock N’ Roll Monarchy (The Max), sebuah pub musik yang berada di jalan Poppies, Kuta. Seringkali diadakan acara rock reguler di tempat ini.

Indie Indonesia Era 2000-an

Bagaimana pergerakan scene musik independen Indonesia era 2000-an? Kehadiran teknologi internet dan e-mail jelas memberikan kontribusi besar bagi perkembangan scene ini. Akses informasi dan komunikasi yang terbuka lebar membuat jaringan (networking) antar komunitas ini semakin luas di Indonesia. Band-band dan komunitas-komunitas baru banyak bermunculan dengan menawarkan style musik yang lebih beragam. Trend indie label berlomba-lomba merilis album band-band lokal juga menggembirakan, minimal ini adalah upaya pendokumentasian sejarah yang berguna puluhan tahun ke depan.

Yang menarik sekarang adalah dominasi penggunaan idiom `indie’ dan bukan underground untuk mendefinisikan sebuah scene musik non- mainstream lokal. Sempat terjadi polemik dan perdebatan klasik mengenai istilah `indie atau underground’ ini di tanah air. Sebagian orang memandang istilah `underground’ semakin bias karena kenyataannya kian hari semakin banyak band-band underground yang `sell-out’, entah itu dikontrak major label, mengubah style musik demi kepentingan bisnis atau laris manis menjual album hingga puluhan ribu keping. Sementara sebagian lagi lebih senang menggunakan idiom indie karena lebih `elastis’ dan misalnya, lebih friendly bagi band-band yang memang tidak memainkan style musik ekstrem. Walaupun terkesan lebih kompromis, istilah indie ini belakangan juga semakin sering digunakan oleh media massa nasional, jauh meninggalkan istilah ortodoks `underground’ itu tadi.

Di tengah serunya perdebatan indie/underground, major label atau indie label, ratusan band baru terlahir, puluhan indie label ramai- ramai merilis album, ribuan distro/clothing shop dibuka di seluruh Indonesia. Infrastruktur scene musik non-mainstream ini pun kian established dari hari ke hari. Mereka seakan tidak peduli lagi dengan polarisasi indie-major label yang makin tidak substansial. Bermain musik sebebas mungkin sembari bersenang-senang lebih menjadi `panglima’ sekarang ini.
Diposting oleh Moh. Jazuli
Paradigma pendidikan multikulturalisme sangat bermanfaat untuk membangun kohesifitas, soliditas dan intimitas di antara keragamannya etnik, ras, agama, budaya dan kebutuhan di antara kita. Paparan di atas juga memberi dorongan dan spirit bagi lembaga pendidikan nasional untuk mau menanamkan sikap kepada peserta didik untuk menghargai orang, budaya, agama, dan keyakinan lain. Harapannya, dengan implementasi pendidikan yang berwawasan multikultural, akan membantu siswa mengerti, menerima dan menghargai orang lain yang berbeda suku, budaya dan nilai kepribadian. Lewat penanaman semangat multikulturalisme di sekolah-sekolah, akan menjadi medium pelatihan dan penyadaran bagi generasi muda untuk menerima perbedaan budaya, agama, ras, etnis dan kebutuhan di antara sesama dan mau hidup bersama secara damai. Agar proses ini berjalan sesuai harapan, maka seyogyanya kita mau menerima jika pendidikan multikultural disosialisasikan dan didiseminasikan melalui lembaga pendidikan, serta, jika mungkin, ditetapkan sebagai bagian dari kurikulum pendidikan di berbagai jenjang baik di lembaga pendidikan pemerintah maupun swasta. Apalagi, paradigma multikultural secara implisit juga menjadi salah satu concern dari Pasal 4 UU N0. 20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional. Dalam pasal itu dijelaskan, bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis, tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi HAM, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa.

Pada konteks ini dapat dikatakan, tujuan utama dari pendidikan multikultural adalah untuk menanamkan sikap simpati, respek, apresiasi, dan empati terhadap penganut agama dan budaya yang berbeda. Lebih jauh lagi, penganut agama dan budaya yang berbeda dapat belajar untuk melawan atau setidaknya tidak setuju dengan ketidak-toleranan (l’intorelable) seperti inkuisisi (pengadilan negara atas sah-tidaknya teologi atau ideologi), perang agama, diskriminasi, dan hegemoni budaya di tengah kultur monolitik dan uniformitas global.

Dalam sejarahnya, pendidikan multikultural sebagai sebuah konsep atau pemikiran tidak muncul dalam ruangan kosong, namun ada interes politik, sosial, ekonomi dan intelektual yang mendorong kemunculannya. Wacana pendidikan multikultural pada awalnya sangat bias Amerika karena punya akar sejarah dengan gerakan hak asasi manusia (HAM) dari berbagai kelompok yang tertindas di negeri tersebut. Banyak lacakan sejarah atau asal-usul pendidikan multikultural yang merujuk pada gerakan sosial Orang Amerika keturunan Afrika dan kelompok kulit berwarna lain yang mengalami praktik diskrinunasi di lembaga-lembaga publik pada masa perjuangan hak asasi pada tahun 1960-an. Di antara lembaga yang secara khusus disorot karena bermusuhan dengan ide persamaan ras pada saat itu adalah lembaga pendidikan. Pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, suara-suara yang menuntut lembaga-lembaga pendidikan agar konsisten dalam menerima dan menghargai perbedaan semakin kencang, yang dikumandangkan oleh para aktivis, para tokoh dan orang tua. Mereka menuntut adanya persamaan kesempatan di bidang pekerjaan dan pendidikan. Momentum inilah yang dianggap sebagai awal mula dari konseptualisasi pendidikan multikultural.

Tahun 1980-an agaknya yang dianggap sebagai kemunculan lembaga sekolah yang berlandaskan pendidikan multikultural yang didirikan oleh para peneliti dan aktivis pendidikan progresif. James Bank adalah salah seorang pioner dari pendidikan multikultural. Dia yang membumikan konsep pendidikan multikultural menjadi ide persamaan pendidikan. Pada pertengahan dan akhir 1980-an, muncul kelompok sarjana, di antaranya Carl Grant, Christine Sleeter, Geneva Gay dan Sonia Nieto yang memberikan wawasan lebih luas soal pendidikan multikultural, memperdalam kerangka kerja yang membumikan ide persamaan pendidikan dan menghubungkannya dengan transformasi dan perubahan sosial.

Didorong oleh tuntutan warga Amerika keturunan Afrika, Latin/Hispanic, warga pribumi dan kelompok marjinal lain terhadap persamaan kesempatan pendidikan serta didorong oleh usaha komunitas pendidikan profesional untuk memberikan solusi terhadap masalah pertentangan ras dan rendahnya prestasi kaum minoritas di sekolah menjadikan pendidikan multikultural sebagai slogan yang sangat populer pada tahun 1990-an. Selama dua dekade konsep pendidikan multikultural menjadi slogan yang sangat populer di sekolah-sekolah AS. Secara umum, konsep ini diterima sebagai strategi penting dalam mengembangkan toleransi dan sensitivitas terhadap sejarah dan budaya dari kelompok etnis yang beraneka macam di negara ini.

Ide pendidikan multikulturalisme akhirnya menjadi komitmen global sebagaimana direkomendasi UNESCO pada bulan Oktober 1994 di Jenewa. Rekomendasi itu di antaranya memuat empat pesan. Pertama, pendidikan hendaknya mengembangkan kemampuan untuk mengakui dan menerima nilai-nilai yang ada dalam kebhinnekaan pribadi, jenis kelamin, masyarakat dan budaya serta mengembangkan kemampuan untuk berkomunikasi, berbagi dan bekerja sama dengan yang lain. Kedua, pendidikan hendaknya meneguhkan jati diri dan mendorong konvergensi gagasan dan penyelesaian-penyelesaian yang memperkokoh perdamaian, persaudaraan dan solidaritas antara pribadi dan masyarakat. Ketiga, pendidikan hendaknya meningkatkan kemampuan menyelesaikan konflik secara damai dan tanpa kekerasan. Karena itu, pendidikan hendaknya juga meningkatkan pengembangan kedamaian dalam diri diri pikiran peserta didik sehingga dengan demikian mereka mampu membangun secara lebih kokoh kualitas toleransi, kesabaran, kemauan untuk berbagi dan memelihara.

Konsep pendidikan multikultural dalam perjalanannya menyebar luas ke kawasan di luar AS, khususnya di negara-negara yang memiliki keragaman etnis, ras, agama dan budaya seperti Indonesia. Sekarang ini, pendidikan multikultural secara umum mencakup ide pluralisme budaya. Tema umum yang dibahas meliputi pemahaman budaya, penghargaan budaya dari kelompok yang beragam dan persiapan untuk hidup dalam masyarakat pluralistik.

Pada konteks Indonesia, perbincangan tentang konsep pendidikan multikultural semakin memperoleh momentum pasca runtuhnya rezim otoriter-militeristik Orde Baru karena hempasan badai reformasi. Era reformasi ternyata tidak hanya membawa berkah bagi bangsa kita namun juga memberi peluang meningkatnya kecenderungan primordialisme. Untuk itu, dirasakan kita perlu menerapkan paradigma pendidikan multikultur untuk menangkal semangat primordialisme tersebut.

Secara generik, pendidikan multikultural memang sebuah konsep yang dibuat dengan tujuan untuk menciptakan persamaan peluang pendidikan bagi semua siswa yang berbeda-beda ras, etnis, kelas sosial dan kelompok budaya. Salah satu tujuan penting dari konsep pendidikan multikultural adalah untuk membantu semua siswa agar memperoleh pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang diperlukan dalam menjalankan peran-peran seefektif mungkin pada masyarakat demokrasi-pluralistik serta diperlukan untuk berinteraksi, negosiasi, dan komunikasi dengan warga dari kelompok beragam agar tercipta sebuah tatanan masyarakat bermoral yang berjalan untuk kebaikan bersama.

Dalam implementasinya, paradigma pendidikan multikultural dituntut untuk berpegang pada prinsip-prinsip berikut ini:

* Pendidikan multikultural harus menawarkan beragam kurikulum yang merepresentasikan pandangan dan perspektif banyak orang.
* Pendidikan multikultural harus didasarkan pada asumsi bahwa tidak ada penafsiran tunggal terhadap kebenaran sejarah.
* Kurikulum dicapai sesuai dengan penekanan analisis komparatif dengan sudut pandang kebudayaan yang berbeda-beda.
* Pendidikan multikultural harus mendukung prinsip-prinisip pokok dalam memberantas pandangan klise tentang ras, budaya dan agama.

Pendidikan multikultural mencerminkan keseimbangan antara pemahaman persamaan dan perbedaan budaya mendorong individu untuk mempertahankan dan memperluas wawasan budaya dan kebudayaan mereka sendiri.

Beberapa aspek yang menjadi kunci dalam melaksanakan pendidikan multikultural dalam struktur sekolah adalah tidak adanya kebijakan yang menghambat toleransi, termasuk tidak adanya penghinaan terhadap ras, etnis dan jenis kelamin. Juga, harus menumbuhkan kepekaan terhadap perbedaan budaya, di antaranya mencakup pakaian, musik dan makanan kesukaan. Selain itu, juga memberikan kebebasan bagi anak dalam merayakan hari-hari besar umat beragama serta memperkokoh sikap anak agar merasa butuh terlibat dalam pengambilan keputusan secara demokratis.
Diposting oleh Moh. Jazuli

Nenek moyang dari musik jazz, yaitu urban musik, berasal dari daerah pedesaan di selatan layaknya jalanan di kota-kota Amerika. Hal ini merupakan hasil dari dua tradisi musikal yang nyata, yaitu Afrika Barat dan Eropa. Afrika Barat memberikan pengaruh dalam jazz berupa ritme yang terus menerus, pergerakan, dan permainan emosi yang sangat menyokong jazz dengan baik. Sedangkan bumbu-bumbu Eropa lebih mempengaruhi dalam hal kualitas musikal menyinggung harmoni dan melodi.

Gabungan dari kedua tradisi ini menghasilkan suatu musik yang bermain dalam suatu meteran dan me-reinterpretasi-kan penggunaan nada-nada dalam kombinasi baru, menciptakan nada-nada biru yang mengekspresikan perasaan, baik sedih maupun ceria. Teriakan peladang/budak dikombinasikan dengan bunyi-bunyi style musisi New Orleans, menghasilkan suatu jenis musik baru. Musik Gospel dari gereja melumer dengan yang dikenal pada abad 20 sebagai “blues” , menawarkan bumbu vokal yang diterjemahkan dengan baik ke dalam instrumen.

Marching Bands, yang dimainkan tidak hanya oleh orang-orang kulit putih tapi juga orang kulit hitam, memperkenalkan instrumen-instrumen yang sebaliknya telah menjaga suatu ekspresi dari tradisi musik klasik. Drum dan alat musik petik berkombinasi dengan terompet, trombon, tuba, dan saxophone. Musik dari Afrika Barat dan musik yang diciptakan oleh para budak diterjemahkan dengan metode berbeda oleh pengaruh Karibia dan alunan Latin. Dan apa yang akhirnya menjadi lagu populer adalah disertai unsur Gospel, Blues, dan Field Hollers (teriakan peladang), menambah suatu tekstur yang kaya terhadap musik yang dunia tidak pernah mendengarnya sebelumnya. Dunia musik Amerika, menjadi matang dengan transformasi tersebut yang akan menjadi musik jazz. Pada akhirnya, ragtime memasuki pergerakan ini mendekati akhir abad 19, dan sisanya, layaknya mereka katakan, telah menjadi sejarah.

Diposting oleh Moh. Jazuli
ERA POLIFONI (1200-1650)

Era Polifoni identik dengan penggunaan kontrapung. Kontrapung secara sederhana dapat diartikan sebagai dua atau lebih melodi yang independen, namun tetap harmoni jika dimainkan secara bersamaan –meski independensinya masih terasa-. Gaya polifoni ini awalnya lebih sering digunakan untuk karya-karya koral yang tidak diiringi instrumen (a capella).

Periode Gothik (1200-1550):

Periode ini merupakan awal mula bentuk dan teknik polifoni dikembangkan. Musik jaman itu disebut juga Ars Antiqua (Ancient Art – Musik Purba).

Ars Nova (Abad ke-14):

Pada era ini, teknik dan ritmik baru menjadikan ekspresi musik polifoni menjadi lebih berkembang. Periode Ars Nova atau New Art ini juga menjadi landasan yang kuat bagi terbentuknya berbagai sekolah, aliran dan mazhab musik polifoni di periode-periode berikutnya.

Awal Mula Sekolah Polifoni (Abad ke-15 dan 16):

Sekolah polifoni awalnya berdiri di Belanda (Abad ke-15) dengan tokohnya yaitu Dufay (1400-1474), Josquin de Pres (c. 1445-1521) dan Orlando di Lasso. Setelah itu muncul hampir bersamaan di Venezia dan Roma pada abad ke-16. Venezia terkenal dengan Willaert (c. 1488-1562) dan Giovanni Gabrieli (c. 1557- c. 1612), sedangkan Roma dengan Palestrina (c. 1525-1592) dan Victoria (c-1557-1612). Adapun di abad ke-16 tersebut, sekolah polifoni tidak selalu berkaitan dengan musik-musik religius, melainkan ada juga yang sekuler, dengan tokoh-tokoh seperti Monteverdi (1567-1643), Byrd (1543-1623), Morley (1557-1603), dan Gibbons (1583-1625).

Periode Barok (Abad ke-17 dan Awal Abad ke-18):

Pada periode ini, kontrapung lebih berkembang, dramatis, dan sering dikombinasikan dengan bentuk-bentuk seperti aria, duet, dan kuartet. Musik koral sudah mulai diiringi oleh instrumen dan tidak selalu dalam bentuk a capella. Bentuk-bentuk musik gereja dikembangkan, seperti oratorio, passion, dan cantata. Tokoh-tokohnya antara lain: Carissimi (1605-1674), Schutz (1585-1672), J.S. Bach (1685-1750) dan Handel (1685-1759).

ERA HOMOFONI (ABAD KE-17)

Era Homofoni secara sederhana dapat diartikan sebagai periode dimana musik dengan melodi tunggal disertai iringan menjadi populer. Ini melahirkan musik-musik semacam opera dan art-song. Instrumen-instrumen seperti organ, clavier, dan violin juga muncul pada era ini. Berikut akan disebutkan komposer-komposer berdasarkan instrumen atau jenis musik yang sering digubah untuk karya-karyanya.

Opera : Monteverdi (1567-1643), Lully (1632-1687), Purcell (1659-1695)
Organ : Sweelinck (1562-1621), Frescobaldi (1583-1643), Buxtehude (1637-1707), Froberger (1616-1667), J.S. Bach (1685-1750)
Clavier : Couperin le Grand (1668-1733), J.S. Bach (1685-1750), Domenico Scarlatti (1685-1757), Handel (1685-1759)
Violin : Corelli (1653-1713), Vivaldi (1678-1757), Tartini (1692-1770), J.S. Bach (1685-1750)
Art Song : Purcell (1659-1695), J.S. Bach (1685-1750)

PERIODE KLASIK (ABAD KE-18 DAN AWAL ABAD KE-19)

Pada periode ini, musik instrumental yang homofonik mendominasi, mengalahkan musik koral dan polifoni. Berbagai bentuk berkembang dan mengkristal, seperti sonata, concerto, dan overture. Ada juga kelompok-kelompok musik seperti string quartet dan simfoni orkestra berkembang di era ini. Komposer-komposer yang terkenal dengan musik instrumentalnya pada periode ini antara lain, K. P. E. Bach (1714-1788), Boccherini (1743-1805), Johann Stamitz (1717-1757), Mozart (1756-1791), Haydn (1732-1809), dan Beethoven (1770-1827). Sedangkan untuk musik opera, yang terkenal antara lain Rameau (1683-1762), Gluck (1714-1787), dan Pergolesi (1710-1736).

PERIODE ROMANTIK (ABAD KE-19)

Periode Romantik memberi penekanan pada emosi dan berbagai perasaan subjektif sang komposer. Melodi dikembangkan; harmoni mejadi lebih ekspresif; ritmik menjadi variatif; dan instrumentasi menjadi lebih kaya dan brilian, seiring dengan para komposer berpikir banyak hal tentang artikulasi nada dan bunyi. Bentuk-bentuk lama peninggalan Periode Klasik seperti simfoni, sonata, concerto, dsb, menjadi lebih fleksibel. Di sisi lain, berbagai bentuk baru juga lahir, seperti karya kecil untuk piano dan violin; serta media orkestra baru seperti konser overture dan puisi simfoni. Ciri lain dari Periode Romantik adalah mulai bermunculannya artis konser dan resitalis, serta penggunaan lebih banyak nada-nada kromatik. Berikut akan disebutkan komposer-komposer berdasarkan instrumen atau jenis musik yang sering digubah untuk karya-karyanya:

Musik Instrumental : Beethoven (1770-1827), Berlioz (1803-1869), Schubert (1797-1828), Schumann (1810-1856), Mendelssohn (1809-1847), Chopin (1810-1849), Paganini (1782-1840), Liszt (1811-1886), Lalo (1823-1892), Brahms (1833-1897), Chausson (1855-1899), Vieuxtemps (1820-1881), Wieniawski (1835-1880), Sarasate (1844-1908), Bruch (1838-1920), K. Goldmark (1830-1915), Franck (1820-1890)
Art Song : Schubert (1797-1828), Schumann (1810-1856), Brahms (1833-1897), Franck (1822-1890), Faure (1845-1924), Richard Strauss (1864-1949), Hugo Wolf (1860-1903)
Opera : Weber (1786-1826), Cherubini (1760-1842), Donizetti (1797-1848), Bellini (1801-1835), Rossini (1792-1868), Verdi (1813-1901), Bizet (1838-1875), Gounod (1818-1893), Massenet (1842-1912), Thomas (1811-1896), Offenbach (1819-1880), Ponchielli (1834-1886), Mayerbeer (1791-1864), Halevy (1791-1864), Wagner (1813-1883), Humperdinck (1854-1921)

Periode Romantik juga terbagi pada beberapa aliran, berikut komposer beserta alirannya.

Realisme dan Naturalisme

Paham yang menyatakan bahwa musik sebaiknya dibuat sedemikian rupa agar dapat diinterpretasi secara lebih realistik. Tokoh-tokohnya antara lain: Mussorgsky (1839-1881), Charpentier (1860- ), Leoncavallo (1863-1919), Mascagni (1863-1945), Puccini (1858-1924)

Neo-Romantisisme

Paham ini ditularkan salah satunya oleh Richard Wagner. Neo-Romantisisme menekankan penggunaan instrumen orkestra yang lebih besar dan megah. Aspek-aspek mistik dan filosofis mulai dipergunakan. Ini kebalikan dari realisme dan naturalisme. Tokoh-tokohnya antara lain: Bruckner (1824-1896), Mahler (1860-1911), Scriabin (1872-1915), Richard Strauss (1864-1949).

Nasionalisme

Paham yang menekankan penggunaan lagu-lagu atau tarian daerah sebagai pijakan untuk membuat karya yang merepresentasi kebudayaan, sejarah atau latar belakang sebuah negara. Tokoh-tokohnya yakni: Glinka (1804-1857), ”The Russian Five”: Balakirev (1837-1910); Borodin (1833-1887); Cui (1835-1918); Mussorgsky (1839-1881); Rimsky Korsakov (1844-1908), Tchaikovsky (1840-1893), Grieg (1843-1907), Dvorak (1841-1904), Smetana (1824-1884), Albeniz (1860-1909).

Dalam periode Modern, terjadi semacam reaksi atas gaya Romantik dan Neo-Romantik. Reaksi tersebut tak lain merupakan respon atas struktur musikalnya, emosi yang berlebihannya, serta filosofinya. Periode modern merupakan kombinasi antara respon atas kritik tersebut, dengan berbagai ekplorasi serta eksperimen baru dalam hal gaya, teknik, dan idiom. Meski demikian, dalam tradisi Modern, terdapat beberapa gaya yang mengusung kembali ide Romantik, dan adapun yang jauh kembali ke era Klasik.

Impresionisme : Aliran yang tidak menekankan pada subjek dari karya musik, melainkan pada emosi dan sensasi yang dihasilkan oleh subjek. Nuansa, mood, atmosfir, cahaya, dan warna, mendapat tempat lebih ketimbang bentuk dan substansi.
Komposer : Debussy (1862-1918), Ravel (1875-1937), Delius (1862-1934)

Ekspresionisme : Ekspresionis menghindari nada utama dari tonal, atau dalam arti kata lain, kaum tersebut memilih bentuk-bentuk atonal. Salah satu teknik terpenting para ekspresionis adalah twelve-tone system.
Komposer : Schoenberg (1874-1951), Berg (1885-1935)

Neo-Klasik : Kembali ke bentuk-bentuk klasik beserta tekniknya, namun dengan kombinasi-kombinasi baru.
Komposer : Stravinsky (1882-1971), Hindemith (1895-1963), Respighi (1879-1936), Roussel (1869-1937)

Dinamisme : Penekanan terletak pada ritmik-ritmik primitif dan kekuatan dinamikanya, namun dalam bentuk yang lebih rumit.
Komposer : Stravinsky (1882-1971), Prokovief (1891-1953)

Nasionalisme : Aliran yang menggubah karya untuk kepentingan negara serta patriotisme. Biasanya karya-karyanya diinspirasi oleh tradisi lokal setempat.
Komposer berdasarkan negara : Armenia (Khatchaturian [1903-1978]), Bohemia (Martinu [1890-1959]), Brasil (Villa-Lobos [1887-1959]), Inggris (Vaughan-Williams [1872-1958]), Finlandia (Sibelius [1865-1957]), Hungaria (Bartok [1881-1945]), Kodaly [1882-1967]), Meksiko (Chavez [1899-1978]), Moravia (Janacek [1854-1928]), Polandia (Szymanowski [1883-1937]), Rumania (Enesco [1881-1955]), Spanyol (Falla [1876-1946], Turina [1882-1949]), AS (Ives [1874-1954]), Copland [1900-1990])

Popularisme : Akar tradisi biasanya masih diusung dalam komposisi-komposisinya, namun digabung dengan musik-musik populer negara setempat. Kepentingannya pun bukan untuk nasionalisme.
Komposer : Villa Lobos (1887-1959), Gershwin (1898-1937)

Musik Proletar : Aliran yang menulis karya untuk kepentingan masal, dan sangat dipengaruhi oleh ideologi Sosialis. Berkembang pesat di wilayah Uni Soviet.
Komposer : Shostakovich (1906-1975), Prokofiev (1891-1953), Kabalevsky (1904-1987), Maskovsky (1881-1950)

Neo-Barok : Aliran yang mengusung kembali gaya kontrapung abad ke-16 dan 17.
Komposer : Hindemith (1895-1963)

Neo-Mistisisme : Aliran yang mengombinasikan filosofi dan mistisisme dari era Romantik serta karakter Wagnerian.
Komposer : Scriabin (1872-1915).

Romantisisme : Aliran yang mengembalikan komposisi-komposinya pada semangat dan filosofi era Romantik.
Komposer : Saint Saens (1835-1921), Glazunov (1865-1936), Rachmaninoff (1878-1943).

Sejarah Violin


Violin yang memiliki penalaan E-A-D-G termasuk dalam “keluarga instrumen gesek” beserta viola, cello, dan double bass. Violin memiliki ukuran yang paling kecil diantara anggota keluarganya yang lain, namun mampu menghasilkan nada yang paling tinggi. Karya-karya yang dikomposisi untuk violin selalu ditulis dalam G clef (treble clef). Pemain violin populer dengan sebutan violinis.

1. Sejarah Singkat

Violin pertama muncul ke permukaan di Italia bagian utara pada awal abad ke-16. Violin diduga mengadopsi tiga macam instrumen: rebec, yang digunakan sejak abad ke-10 (diadopsi dari rebab [Arab]), Renaissance fiddle , dan lira da braccio. Deskripsi cukup detil dari violin beserta penalaannya diperkenalkan pertama kali oleh Jambe de Fer di Lyons pada tahun 1556. Sejak saat itu, violin mulai dikenal di seantero Eropa.
Violin yang bentuknya dikenal hingga sekarang diciptakan pertama kali oleh Andrea Amati di pertengahan abad ke-16 atas permintaan keluarga Medici . Keluarga tersebut meminta Amati untuk menciptakan instrumen yang mampu dimainkan oleh musisi jalanan, namun berkualitas setara dengan lute , instrumen yang populer di kalangan bangsawan kala itu. Amati, yang pada zamannya dikenal sebagai luthier (pembuat lute) yang mahir, memutuskan untuk menciptakan instrumen yang mampu menghasilkan suara yang lebih indah dari alat musik manapun pada zaman tersebut. Hasilnya, violin menjadi sangat populer. Dari awalnya ditujukan bagi musisi jalanan, menjadi instrumen yang juga diminati kalangan bangsawan. Fakta tersebut diketahui ketika Raja Prancis, Charles IX meminta Amati untuk membuat violin dengan jumlah yang cukup untuk membangun sebuah orkestra.
Busur (bow) modern untuk violin disempurnakan oleh François Tourte (1774-1835). Tourte menyimpulkan bahwa pernambuco adalah bahan terbaik yang bisa memberikan berat, kekuatan dan elastisitas yang ideal bagi busur. Pernambuco sendiri adalah sejenis kayu yang biasa dipakai untuk pewarna dan banyak ditemukan di negara bagian Pernambuco, Brasil. Lewat saran beberapa virtuoso violin seperti Viotti, Kreuzer, dan Rode, Tourte membuat standar panjang busur yang baik bagi violin adalah 74 atau 75 cm, viola 74 cm, dan cello 72-73 cm.

2. Luthier

Walaupun pada awalnya luthier merupakan sebutan yang terbatas bagi pembuat lute, namun akhirnya pembuat violin juga mendapat sebutan serupa. Dalam sejarah penciptaan violin, terdapat tiga luthier yang secara turun temurun berjaya menciptakan violin yang berkualitas:

a. Amati

Keluarga ini adalah luthier dari Italia, yang berkembang di kawasan Cremona dari tahun 1550 hingga 1740. Andrea Amati (1500 - 1577) adalah pembuat violin pertama yang kemudian mewariskan kemampuannya tersebut pada kedua anaknya: Antonio Amati (lahir 1540) dan Girolamo Amati (1561-1630). Amati bersaudara kemudian menciptakan banyak inovasi baru tentang desain violin, termasuk penyempurnaan bentuk soundhole violin yang terkenal. Mereka juga menjadi pionir dalam pembuatan viola yang bersuara alto.
Niccolo Amati (3 September 1596 – 12 Agustus 1684) yang merupakan anak dari Girolamo Amati mengembangkan model yang telah dibuat oleh para pendahulunya, sehingga menghasilkan suara yang lebih kuat. Modelnya ini terkenal dengan sebutan “Grand Amatis”. Murid-murid Nicolo yaitu Antonio Stradivari dan Andrea Guarneri kelak menjadi luthier handal yang terkenal hingga saat ini.
Dinasti Amati tidak bertahan lama setelah meninggalnya anak dari Niccolo, Girolamo Amati, yang dikenal dengan nama Hieronymous II di tahun 1740. Kendati ia juga mewarisi bakat luthier ayahnya, model violin Hieronymous II sudah mampu ditandingi oleh Antonio Stradivari. Meninggalnya Hieronymous II adalah pertanda berakhirnya dominasi keluarga Amati, dan dimulainya Dinasti Stradivarius.
Kutipan:

b. Stradivarius

Walaupun model ini ini juga dijalankan secara turun temurun, namun dinasti ini hanya mencatat satu nama dominan, yaitu sang pencetus, Antonio Stradivari (1644-1737). Antonio menciptakan violin yang kemudian dinamai dengan “Stradivarius” (bahasa latin dari Stradivari) dan biasa disingkat dengan “Strad”. Anak dari pasangan Alessandro Stradivari dan Anna Moroni yang lahir di Cremona ini bekerja pada perusahaan Amati di sekitar tahun 1667 hingga 1679.
Di tahun 1680, Antonio mendirikan perusahaannya sendiri di Piazza San Domenico, dan ketenarannya sebagai luthier mulai mencuat. Ia selalu berusaha menunjukkan orisinalitas dan meninggalkan pengaruh model Amati sedikit demi sedikit. Perubahan –atau lebih tepatnya perombakan- yang dilakukan Antonio pada fingerboard, neck, bass bar, urutan pengeleman, bahkan hingga vernis yang lebih indah, menjadikan violin semakin diposisikan sebagai instrumen yang nyaris sempurna. Teknik Stradivarius menjadi dasar pembuatan violin bagi para luthier hingga sekarang.
Violin Stradivarius yang orisinil diciptakan oleh Antonio dapat dikenali dengan tulisan dalam bahasa latin: Antonius Stradivarius Cremonensis Faciebat Anno ….. (artinya: Antonio Stradivari, Cremona, dibuat pada tahun …. ). Stradivarius dengan suara yang paling dahsyat dibuat antara tahun 1698 hingga 1730 ketika Stradivari berada dalam masa produktif (golden age). Setelah tahun 1730, Stradivarius diteruskan oleh generasi berikutnya, yaitu anak dari Antonio, Omobono dan Francesco.
Selain violin, Stradivarius juga memproduksi gitar, harpa, viola dan cello. Dari 1100 instrumen yang pernah diproduksi Strad, 650 diantaranya masih bertahan hingga sekarang. Rekor terbaru penjualan Strad dicatat di tahun 2005 kemarin, “The Lady Tennant” buatan tahun 1699 terjual seharga US$ 2,032,000! Virtuoso violin Itzhak Perlman adalah salah satu pemakai setia Strad (Soil Strad – 1714), selain cellis Yo-Yo Ma yang menggunakan Davidov Strad. Antonio Stradivari meninggal di Cremona, Italia, pada 18 Desember, 1737 dan dimakamkan di Basilica of San Domenico, Cremona.

c. Guarneri

Seperti luthier-luthier hebat lainnya, keluarga Guarneri berasal dari Cremona, Italy pada abad ke-17 dan 18. Andrea Guarneri (1626-1698), generasi pembuat violin pertama dari keluarga ini awalnya bekerja untuk Nicolo Amati dari sejak 1641 hingga 1646. Setelah sempat berhenti, Guarneri kembali bekerja pada Amati dari tahun 1650 hingga 1654. Instrumen buatan Guarneri awalnya banyak meniru model “Grand Amatis” yang mahsyur diciptakan oleh Nicolo Amati, sebelum akhirnya Guarneri menciptakan ciri khasnya tersendiri. Andrea saat itu lebih pintar membuat viola yang baik, salah satunya dipakai oleh William Primrose.
Setelah Andrea meninggal, dua anaknya meneruskan bakat ayahnya. Pietro Giovanni Guarneri (18 Februari 1655 – 26 Maret 1720) yang dikenal dengan Peter of Mantua (Pietro da Mantova) -untuk membedakannya dengan kemenakannya, Pietro Guarneri- bekerja pada bengkel ayahnya dari sekitar 1670 hingga ia menikah di tahun 1677. Peter of Mantua yang juga seorang musisi itu mampu membuat violin yang lebih baik dari ayahnya. Joseph Szigeti adalah salah satu pemain yang memakai violin buatannya.
Anak bungsu Andrea, Giuseppe Giovanni Battista Guarneri (25 November 1666- 1739/1740) mewarisi bisnis ayahnya pada tahun 1698. Ia dikenal mampu membuat violin yang baik, walaupun saat itu itu harus bersaing ketat dengan Stradivarius. Giuseppe kemudian mewariskan bakatnya pada dua anaknya, Pietro Guarneri (14 April 1695 – 7 April 1762) dan Giuseppe Guarneri (21 Agustus 1698 – 17 Oktober 1744). Nama yang terakhir inilah yang kemudian sangat diperhitungkan dalam dunia violin. Giuseppe yang terkenal dengan labelnya yang bertulisnya I.H.S (iota-eta-sigma) dan salib Roma itu, violin buatannya dipakai oleh virtuoso abadi, Niccolò Paganini (Cannone Guarnerius – 1743). Yehudi Menuhin juga memiliki “Lord Wilton” ciptaan Guarneri tahun 1742. Masih banyak virtuoso violin yang memakai instrumen ciptaannya, diantaranya Corey Cerovsek, Arthur Grumiaux, Jascha Heifetz, Leonid Kogan, Isaac Stern dan Henryk Szeryng. Violin Guarneri ini hingga merupakan pesaing ketat Stradivarius hingga saat ini.
Sayangnya, sejak dahulu label-label violin tersebut telah mengalami pembajakan serius. Cukup banyak violin-violin yang menggunakan label dari luthier handal, meski pada kenyataannya tidak ada sangkut pautnya dengan luthier tersebut. Namun saking miripnya violin tiruan tersebut dengan aslinya, dibutuhkan keahlian khusus untuk meneliti orisinalitas sebuah violin yang dilabeli luthier ternama.

3. Virtuoso Violin

Dalam perjalanannya, violin melahirkan segudang virtuoso yang beberapa diantaranya juga merangkap sebagai komponis handal. Raksasa-raksasa tersebut antara lain:

a. Niccolò Paganini

Niccolò Paganini lahir di Genoa, Italia pada 27 Oktober 1782 dan merupakan anak dari pasangan Antonio dan Teresa Paganini. Menurut Peter Lichtenthal, orang yang menulis biografinya, Paganini awalnya mempelajari mandolin dari ayahnya pada umur lima tahun, sebelum akhirnya mempelajari violin ketika umurnya tujuh. Paganini bahkan mulai menulis lagu sebelum usianya delapan dan tampil di konser umum pertama kalinya di umur 12 tahun. Paganini belajar violin pada beberapa guru, diantara Giovanni Servetto dan Alessandro Rolla. Rolla yang diminta untuk mengajar Paganini kala berusia 13 tahun, kemudian menyarankan Paganini untuk berhenti menimba ilmu darinya, karena Paganini terlalu berbakat dan Rolla tidak mampu mengajarkannya apa-apa lagi. Padahal, kala itu Rolla adalah salah satu guru violin yang terkenal.
Di usia 16, Paganini menjadi senang berjudi dan mabuk, namun karirnya selamat oleh seorang wanita tak dikenal, yang kemudian mengajarinya violin selama tiga tahun. Pada saat itu, ia juga mempelajari gitar. Paganini mencuat kembali pada usia 23 tahun, menjadi direktur musik bagi adik dari Napoleon, Elisa Baciocchi, ketika ia tidak sedang melakukan tur. Segera setelah itu, Paganini menjadi legenda violin baru, lewat debutnya di Milan (1813), Vienna (1828), London dan Paris (1831). Paganini adalah salah satu musisi pertama yang tur sebagai solois, tanpa musisi-musisi pendukung. Paganini yang selalu menjadi bintang pada setiap konser, memiliki kemampuan luar biasa untuk membuat audiens terpesona. Kehebatan Paganini lalu dihubungkan rumor “aktivitasnya” dengan iblis (lihat: Misteri Kehebatan Paganini). Violin yang dimiliki Paganini bernama Cannone Guarnerius buatan Giuseppe Guarneri tahun 1743. Nama itu diberikan karena suaranya yang merefleksikan cannon (meriam). Suara dahsyat itu dihasilkan ketika Paganini menggesek tiga hingga empat senar sekaligus.
Paganini menjadi pencetus beberapa teknik baru yang mengagumkan. Diantaranya adalah scordatura, yakni merubah penalaan violin yang berpengaruh pada kemudahan permainan untuk lagu-lagu tertentu. Paganini juga menciptakan teknik left hand pizzicato, yaitu memetik senar violin dengan tangan kiri dimana yang lazim digunakan adalah tangan kanan. Selain itu, teknik-teknik lainnya seperti double stop harmonics dan parallel octaves termasuk keahlian yang dianggap mendekati mustahil bahkan hingga sekarang. Paganini menulis karya-karya untuk violin dengan eksplorasi yang lebih luas dan mengharuskan setiap pemain untuk memiliki teknik diatas rata-rata. Penggunaan kombinasi staccato, harmonics, dan pizzicato (untuk kedua tangan) yang jarang terlihat intensif pada karya-karya untuk violin jaman itu, ditulis oleh Paganini dalam karya-karyanya yang elegan.
Semasa hidupnya, Paganini cukup produktif dalam mengomposisi. Masterpiece yang paling terkenal adalah 24 caprices for solo violin, Op.1. Paganini juga menulis enam komposisi violin concerto, beberapa sonata, karya-karya untuk string quartet, lebih dari 200 komposisi untuk gitar, dan repertoar-repertoar lainnya yang beberapa diantaranya ia tulis bagi violin dan gitar sekaligus.
Kesehatannya memburuk ketika ia mengidap kanker larink yang membuatnya tidak bisa berbicara. Namun Paganini tetap bermain violin hingga saat-saat terakhir menjelang kematiannya di Nice pada 27 Mei 1840. Paganini diklaim sebagai virtuoso pertama dalam permainan violin dan menjadi legenda yang dikenang hingga saat ini.

b. Pablo Sarasate

Pablo Martín Melitón de Sarasate y Navascues lahir di Pamplona, proponsi Navarre, Spanyol pada 10 Maret 1844. Sarasate mulai mempelajari violin di usia lima tahun pada ayahnya sendiri yang merupakan bandmaster di kesatuan artileri. Sarasate melakukan performance pertama kali di depan publik La Caruña pada usianya yang ke-8. Tak lama setelah itu, Sarasate mempelajari violin pada Manuel Rodriquez Saez di kota Madrid.
Saat berumur 12 tahun, Sarasate yang telah memiliki banyak penggemar termasuk Ratu Isabel II, dibawa oleh ibunya ke Paris untuk belajar pada Jean Alard di Paris Conservatoire. Namun malang menimpa, ibu Sarasate terkena serangan jantung dan meninggal sebelum sampai di Paris. Bersamaan dengan itu, Sarasate juga didiagnosis menderita kolera. Akhirnya, Sarasate terpaksa mengurungkan niatnya ke Paris hingga dirinya pulih.
Setelah sembuh dari penyakitnya beberapa waktu kemudian, Sarasate bertemu Jean Alard di Paris. Alard yang mencium bakat violinis muda ini, mengikutsertakan Sarasate yang berusia 17 tahun pada kompetisi Premiere Prix, yang langsung dijuarainya dengan mudah. Sejak momen tersebut, Sarasate mulai meniti karirnya sebagai penampil profesional.
Walaupun Sarasate memainkan karya-karya concerto dari Beethoven dan Mendelsohn, namun secara umum ia dikenal sebagai violinis yang sering tampil membawakan karyanya sendiri. Komposisi Sarasate amat kental dengan aroma Spanyol dimana ia mampu mentransfer kultur dansa negerinya dalam karya-karya violin. Pada zaman itu, karya untuk violin dengan gaya Spanyol masih sangat langka. Komposisi-komposisi Sarasate yang mahsyur antara lain Zigeneurweisen yang ia tulis untuk violin dan orkestra pada tahun 1878, dan Carmen Fantasy (1883) yang mengambil tema dari opera Carmen karya George Bizet –juga untuk violin dan orkestra-. George Bernard Shaw pernah berkomentar atas kehebatan Sarasate: “There were many composers of music for the violin, but there were few composers of violin music,” pernyataan yang menyiratkan kelangkaan figur macam Sarasate. Shaw juga menambahkan, kejeniusan Sarasate membuat “para kritikus tertinggal jauh di belakangnya”.
Sarasate memiliki kepribadian yang menarik. Walaupun semasa hidupnya ia menerima ratusan surat cinta dari penggemar wanitanya, tidak ada satupun yang ia balas. Pikirnya, dengan memiliki kekasih atau menikah, Sarasate akan melukai hati fansnya. Prinsip untuk terus melajang ia pegang teguh hingga akhir hayatnya. Sarasate juga adalah seorang kaya raya yang rendah hati. Walaupun ia memiliki vila mewah di Biarritz, namun tiap tahun Sarasate selalu menyempatkan diri pulang ke kampung halamannya untuk mengikuti Fiesta.
Sarasate meninggal di Biarritz pada 20 September 1908 karena penyakit bronchitis yang kronis. Banyak karya-karya dari komposer terkenal didedikasikan untuknya, diantaranya: Violin Concerto No. 2 karya Henryk Wieniawski, Symphonie Espagnole karya Édouard Lalo, Violin Concerto No. 3 dan Introduction and Rondo Capriccioso karya Camille Saint-Saëns serta Scottish Fantasy ciptaan Max Bruch.

c. Yehudi Menuhin

Yehudi Menuhin yang lahir pada 22 April 1916 di New York, AS, adalah putra dari pasangan Russia-Yahudi yang berimigrasi ke Amerika. Dalam usia yang amat belia (7 tahun), Menuhin sudah mampu memainkan Violin Concerto karya Mendelssohn, yang langsung mengantarkannya pada ketenaran. Menuhin menghabiskan masa muda untuk tur keliling dunia memamerkan kemampuan bermusiknya. Hebatnya lagi, semua itu dilakukan sebelum usianya genap 20 tahun.
Menuhin memperdalam kemampuan violin di Paris pada George Enesco, violinis dan komposer yang kemudian sangat mempengaruhi gaya permainannya. Saat Perang Dunia II meletus, Menuhin memainkan lebih dari 500 konser bagi pasukan sekutu. Bersama komponis Benjamin Britten, Menuhin juga bermain bagi tawanan-tawanan kamp konsentrasi yang telah dibebaskan oleh Jerman.
Sebagai seorang musisi berdarah Yahudi, Menuhin memiliki keterikatan khusus dengan Jerman. Di tahun 1947, Menuhin “kembali” ke Jerman, dan menjadi musisi Yahudi pertama yang menginjakkan kakinya di tanah Bravaria setelah holocaust. Di Jerman, Menuhin bekerjasama dengan konduktor terkenal di Jerman, Wilhelm Furtwängler. Walaupun Furtwängler adalah seorang pro-Nazi, Menuhin tetap melanjutkan kerjasamanya. Di masa-masa ini, Menuhin harus menjalani kehidupan yang dilematis. Saat bermusik, ia harus menanggalkan identitasnya sebagai Yahudi agar tetap eksis, namun ketika Menuhin masuk pada lingkungan “asal”-nya, ia mesti bersikap antipati pada ras Aria yang pernah membantai bangsanya.
Memasuki tahun 1940an dan 1950an, Menuhin memainkan banyak karya klasik yang agung. Penghargaan terbesarnya datang ketika ia menampilkan karya Sonata for Solo Violin dari Bella Bartók. Bagi Menuhin, Bartok adalah sosok komponis yang mampu menampilkan emosi mendalam serta teknik-teknik yang menantang dalam karyanya. Bagi Bartók, karya tersebut menjadi lebih indah di tangan Menuhin, bahkan lebih indah dari yang ia imajinasikan sebelumnya. Kolaborasi Bartók-Menuhin disebut-sebut sebagai salah satu kekayaan terbesar dunia musik klasik abad ke-20.
Pada tahun 1952, Menuhin berkenalan dengan yogi terkenal, B.K.S. Iyengar yang kemudian diminta ikut tur dengannya untuk mengajari yoga. Menuhin dianggap salah seorang pencetus dimulainya perhatian Barat terhadap Yoga, terutama bagi kalangan musisi. Mulai tahun 1960, Menuhin memperluas keterlibatannya dalam dunia musik. Tahun 1963, ia membuka Sekolah Yehudi Menuhin, sekolah yang ditujukan bagi anak-anak berbakat di bidang musik. Menuhin juga memulai karir sebagai konduktor, yang kelak akan terus dilakoninya hingga wafat. Menuhin menjadi konduktor banyak orkestra besar di dunia, dan tampil di festival-festival musik akbar. Menuhin yang kental dengan klasik sejak kecil, mulai meningkatkan ekspolarinya ke dunia di luar klasik. Kolaborasinya yang terkenal adalah bersama sitaris Ravi Shankar dan violinis jazz Stephane Grapelli pada tahun 1980an.
Dalam 20 tahun terakhir sisa hidupnya, Menuhin sangat aktif dalam permusikan dunia. Ia adalah penampil, konduktor, guru, dan pembicara yang berpengaruh di zamannya. Muridnya yang terkenal diantaranya Nigel Kennedy dan violis Hungaria, Csaba Erdelyi. Di tahun 1985, Menuhin dianugerahi kewarganegaraan Inggris dan berhak atas gelar bangsawan. Lord Menuhin meninggal di Berlin, Jerman pada 12 Maret 1999 akibat komplikasi.

d. Itzhak Perlman

Itzhak Perlman lahir pada 31 Agustus 1945 di Jaffa, Israel. Pada usia empat tahun, Perlman terserang penyakit polio yang menyebabkan ia harus berjalan dengan menggunakan kruk seumur hidupnya. Perlman belajar violin pertama kali di Tel Aviv setelah mendengar suara instrumen tersebut pada sebuah radio. Setelah menamatkan training-nya di akademi musik Tel Aviv, Perlman lalu melanjutkan studinya ke Julliard School di AS. Hampir bersamaan dengan itu, pada tahun 1964, ia memenangkan kejuaraan bergengsi Levetritt Competition, sebuah penghargaan yang mengantarkan Perlman menjadi violinis yang diperhitungkan di dunia.
Sejak itu, Perlman tampil hampir di setiap orkestra besar dan resital serta festival di seluruh dunia. Di tahun 1970an, ia mulai mengisi beberapa rekaman dan menjadi tamu pada beberapa acara televisi favorit di Amerika seperti The Tonight Show dan Sesame Street. Pada bulan November 1987, Perlman bergabung dengan Israel Philharmonic Orchestra untuk mengikuti konser bersejarah di Budapest dan Warsawa, sebagai penampilan pertama dari orkes tersebut di wilayah Blok Timur kala Perang Dingin. Perlman kemudian membuat sejarah lagi, dengan tampil bersama orkes yang sama, ia mengunjungi Uni Soviet pada April/Mei 1990 dan memukau audiens di Moskow dan Leningrad.
Pada bulan Desember tahun 1990, Perlman yang menggunakan violin Soil Strad yang terkenal ini kembali ke Leningrad dalam rangka memperingati 150 tahun Tchaikovsky. Konser yang juga menghadirkan Yo-Yo Ma, Jessye Norman, dan Yuri Temirkanov dalam Leningrad Orchestra tersebut disiarkan langsung ke seluruh Eropa dan dikemas dalam video. Pada Desember 1993, Perlman berangkat ke Praha, Republik Ceko untuk tampil pada konser yang ditujukan bagi Dvorak. Dalam konser tersebut, ia tampil bersama Yo-Yo Ma, Frederica von Stade, Rudolf Firkusny dan Boston Symphony Orchestra yang dipimpin oleh Seiji Ozawa. Sama halnya dengan penampilan di Leningrad, konser tersebut juga disiarkan langsung dan diedarkan dalam bentuk home video.
Perlman dianugerahi empat Emmy Awards untuk berbagai film dokumenter yang salah satunya menceritakan aktivitasnya untuk Perlman Summer Music Program. Penghargaan Emmy lainnya ditujukan atas dedikasinya pada musik Klezmer , yang ditampilkan di stasiun televisi PBS. Berbagai rekaman yang dilakukannya juga menuai sukses, violinis yang selalu tampil dengan posisi duduk ini meraih 15 Grammy Awards. Bersama perusahaan rekaman raksasa Sony Classical, ia pernah melakukan kolaborasi dengan violinis Isaac Stern, gitaris John Williams, konduktor Seiji Ozawa dan Zubin Mehta, serta Juiliard String Quartet.
Perlman juga adalah solois bagi beberapa soundtrack film. Permainan violinnya yang khas dapat didengar dalam theme song Schindler’s List karya John T. Williams. Film yang bercerita tentang holocaust tersebut disutradai oleh Steven Spielberg dan meraih Academy Awards untuk kategori Best Score. Film yang belum lama ini hadir di Indonesia, Memoirs of a Geisha juga menggunakan jasa Perlman dan Yo-Yo Ma untuk lagu temanya.
Perlman telah meraih banyak penghargaan, salah satunya Kennedy Center Honors pada tahun 2003. Perlman yang disebut-sebut sebagai violinis terbaik abad ke-20 tersebut hingga saat ini aktif sebagai solois dan konduktor orkestra-orkestra besar khususnya di AS.
Diposting oleh Moh. Jazuli

1 TAREKAT CHISYTIYAH

Khwaja ('Guru') Abu Ishaq Chisyti, 'orang Syria', lahir di awal abad kesepuluh. Ia keturunan Nabi Muhammad saw dan dinyatakan sebagai 'keturunan spritual' ajaran-ajaran batiniah Keluarga (Bani) Hasyim. Pengikut-pengikutnya berkembang dan berasal dari Garis para Guru, yang kemudian dikenal menjadi Naqsyabandiyah ('Orang-orang Bertujuan').

Komunitas Chisytiyah ini, berawal di Chisyt, Khurasan, khususnya menggunakan musik dalam latihan-latihan mereka. Kaum darwis pengelana dari tarekat ini, dikenal sebagai Chist atau Chisht. Mereka akan memasuki sebuah kota dan meramaikan suasana dengan seruling dan genderang, untuk mengumpulkan orang-orang sebelum menceritakan dongeng atau legenda, sebuah permulaan yang penting.

Jejak tokoh ini ditemukan pula di Eropa, di mana chistu Spanyol ditemukan dengan pakaian dan instrumen serupa --semacam pelawak atau komedi keliling. Bisa jadi demikian, dalam kamus etimologi Barat menghubungkan istilah Latin gerere, 'melakukan', sebagai asal kata 'pelawak' yang kenyataannya adalah sosok jenaka, dan asal mula itu berkaitan dengan Chisti Afghanistan.

Sebagaimana tarekat Sufi lainnya, metodologi khusus kaum Chisyti segera mengalami kristalisasi menjadi kecintaan sederhana terhadap musik; pembangkitan emosional yang dihasilkan musik dikacaukan dengan 'pengalaman spiritual'.

Pengaruh kaum Chisyti paling lama di India. Selama sembilanratus tahun terakhir, musisi mereka dihargai di seluruh benua.

Berikut materi-materi yang mewakili instruksi dan tradisi Chisytiyah.

SEBAB DAN AKIBAT

Abu Ishaq Syami Chisyti mengatakan:

"Guruku, Khaja Hubairah, suatu hari mengajakku berjalan-jalan keliling kota.

Seorang laki-laki menunggang keledai tidak mau memberi jalan untuk kami di sebuah jalan sempit, dan ketika kami minggir pelan-pelan ia menyumpahi kami.

'Semoga dihukum karena perbuatan itu!' orang-orang berteriak dari pintu mereka.

Khaja berkata kepadaku:

'Betapa dangkalnya pikiran orang-orang ini! Tidakkah mereka sedikit menyadari apa yang sebenarnya terjadi? Mereka hanya melihat satu jenis sebab dan akibat, sementara kadang akibat, seperti yang mereka katakan, muncul sebelum sebab.'

Aku bingung dan bertanya apa maksudnya.

'Mengapa?' katanya, 'Orang itu sudah dihukum untuk perbuatan yang baru saja dilakukan tadi. Kamis lalu ia melamar memasuki lingkungan Syeikh Adami, dan ditolak. Hanya kalau ia menyadari alasannya, ia akan diterima dalam lingkungan tersebut. Sampai saat ini, ia terus berperilaku demikian'."

KEBUN

Pada suatu waktu, ketika ilmu dan seni berkebun belum dimantapkan diantara manusia, terdapat seorang ahli berkebun. Dalam mengetahui kualitas tanaman, makanan mereka, kandungan khasiat obat dan nilai keindahan, ia diakui memiliki pengetahuan Obat-obatan (jamu dari tumbuh-tumbuhan) dan Umur Panjang, dan ia hidup selama ratusan tahun.

Dari generasi ke generai, ia mengunjungi kebun dan tempat-tempat yang ditanami di seluruh dunia. Di suatu tempat ia menanami suatu kebun yang indah, dan mengajar orang-orang tentang pemeliharaan dan cara berkebun. Tetapi, karena terbiasa melihat 'tanaman tumbuh dan berbunga tiap tahun, mereka segera lupa bahwa ada tanaman yang harus dikumpulkan benihnya, harus diperbanyak dengan dipotong, ada yang butuh banyak air dan sebagainya. Akibatnya, kebun menjadi liar, dan orang-orang mulai menghargainya sebagai kebun terbaik yang pernah ada.

Setelah memberi orang-orang banyak hal untuk dipelajari, ahli kebun ini melepas mereka dan menarik pekerja lainnya. Ia memperingatkan mereka, jika tidak menjaga kebun itu, dan mempelajari cara-caranya, mereka akan menderita karenanya. Mereka, pada gilirannya, lupa -- dan sejak mereka malas, hanya merawat buah dan bunga yang mudah tumbuh, lainnya dibiarkan mati. Beberapa orang yang belajar pertama mendatangi mereka dari waktu ke waktu, mengatakan, "Engkau harus melakukan ini dan itu," tetapi mereka mengusirnya dan berteriak, "Engkau salah satu yang terpisah dari kebenaran dalam persoalan ini!"

Tetapi ahli kebun bertahan. Ia membuat kebun lainnya, di mana pun ia bisa, dan tidak ada satu pun yang sempurna kecuali yang ia pelihara dengan pembantu utamanya. Maka diketahuilah bahwa terdapat banyak kebun dan cara berkebun, orang-orang dari satu kebun mengunjungi kebun lainnya, untuk mendukung, mengkritik atau berdebat. Kitab pun ditulis, diadakan perkumpulan ahli kebun, mereka juga menyusun diri mereka sendiri dalam tingkatan, sesuai dengan apa yang mereka pikir menjadi tatanan yang diutamakan.

Sejalan dengan manusia, kesulitan para ahli kebun tetap ada karena mereka terlalu mudah tertarik oleh hal-hal superfisial. Mereka mengatakan, "Aku suka bunga ini," dan mereka ingin orang lain juga menyukainya. Mungkin saja, sebagai pengganti daya tarik dan kelimpahan, rumput-rumputan yang menghambat tanaman lain, dapat menyediakan obat-obatan atau makanan yang dibutuhkan orang dan ahli kebun untuk makanan dan kelangsungan hidup.

Diantara ahli kebun ini terdapat mereka yang lebih suka menanam satu jenis tanaman. Mungkin dijelaskan sebagai 'keindahan'. Ada juga yang lebih cenderung hanya menanam, menolak pemeliharaan jalan atau pintu gerbang, bahkan pagar.

Ketika si ahli kebun meninggal, ia mewariskan semua pengetahuannya tentang berkebun, menyumbangkannya kepada mereka yang memahaminya menurut kapasitas masing-masing. Maka, ilmu sebagaimana seni berkebun dikenang sebagai warisan yang tersebar di banyak kebun dan juga dalam beberapa catatan.

Orang-orang yang dibesarkan di satu kebun atau lainnya, umumnya sudah diajari dengan kuat segala kebaikan atau kejelekan, tentang bagaimana penduduk melihat sesuatu yang mungkin mereka tidak mampu -- kendati berusaha -- menyadari bahwa mereka harus kembali pada konsep 'kebun'. Akan tetapi, pada umumnya mereka hanya menerima, menolak, menghentikan keputusan atau mencari apa yang mereka bayangkan sebagai faktor-faktor umum.

Dari waktu ke waktu, ahli kebun sejati bermunculan. Ahli seperti itu, kebanyakan pada semi-kebun, ketika mendengar yang asli, orang-orang berkata, "Oh ya, engkau berbicara tentang kebun seperti sudah kami miliki, atau kami bayangkan."Apa yang mereka miliki dan bayangkan, keduanya tidak sempurna.

Ahli sejati, yang tidak dapat berunding dengan pekebun imitasi, berkumpul dengan sebagian besar mereka, meletakkan di kebun ini atau itu, sesuatu dari seluruh simpanan yang memungkinkannya mempertahankan vitalitasnya di beberapa tingkat.

Mereka sering terpaksa menyamar, karena orang-orang yang ingin belajar sebenarnya tahu tentang fakta berkebun sebagai seni atau ilmu, mendasari apa pun yang sudah mereka dengar sebelumnya. Maka mereka bertanya, "Bagaimana aku bisa mendapatkan bunga yang lebih indah dari umbi ini?"

Ahli kebun sejati bisa saja bekerja dengan mereka, karena kebun yang sesungguhnya dapat diwujudkan, untuk keuntungan seluruh ummat manusia. Mereka tidak terlalu lama, tetapi hanya melalui mereka pengetahuan dapat diajarkan, dan orang-orang dapat melihat apa kebun itu sebenarnya.

KELOMPOK SUFI

Sekelompok Sufi ditugaskan oleh guru mereka ke sebuah wilayah, dan menempati sebuah rumah.

Untuk menghindari perhatian yang tidak diinginkan, hanya satu orang yang bertugas -- Pemimpin -- mengajar publik. Sisanya, mengemban tugas sebagai pelayan di rumahnya.

Ketika guru ini meninggal, komunitas tersebut menyusun kembali tugas-tugas mereka, menyatakan diri mereka sebagai mistik lanjutan.

Tetapi penduduk wilayah tersebut tidak hanya mencela mereka sebagai peniru, tetapi mengatakan, "Memalukan! Lihat Bagaimana mereka merampas dan membagi warisan Guru Agung. Mengapa, pelayan-pelayan menyedihkan ini sekarang bahkan berperilaku seolah mereka kaum Sufi!"

Orang-orang awam, dengan pengalaman pemikiran yang kurang, tanpa sarana apa pun menghakimi situasi tersebut. Oleh karena itu, mereka cenderung menerima para peniru belaka, yang mengekor kepada guru dan menolak mereka yang benar-benar membawa karya mereka.

Ketika seorang guru meninggalkan komunitas, karena meninggal atau sebab lain, mungkin kegiatannya diharapkan untuk dilanjutkan -- atau mungkin pula tidak. Merupakan suatu ketamakan orang awam, kalau mereka selalu menganggap bahwa kelanjutan tersebut memang diinginkan. Merupakan kebodohan relatif mereka, kalau tidak dapat melihat sebuah kelanjutan, jika mengambil bentuk lain daripada bentuk sederhana.

KETIKA KEMATIAN BUKAN KEMATIAN

Seorang laki-laki diyakini telah meninggal, dan disiapkanlah penguburan, ketika itu ia bangun kembali.

Laki-laki itu kemudian duduk, tetapi tampak sangat terkejut melihat pemandangan sekitarnya, dan pingsan lagi. Kemudian ia dimasukkan dalam keranda, dan upacara pemakaman dimulai.

Ketika mereka tiba di kuburan, ia sadar lagi, mengangkat penutup keranda dan berteriak minta tolong.

"Tidak mungkin ia hidup lagi," ujar para pelayat. "Karena ia sudah dinyatakan meninggal oleh ahli yang berwenang."

"Tetapi aku hidup!" teriak laki-laki tersebut.

Ia pun lalu minta tolong kepada seorang ilmuwan dan ahli hukum ternama yang ikut hadir.

"Sebentar," ujar sang ilmuwan. Kemudian ia berbalik kepada para pelayat, dan menghitung mereka. "Sekarang, kita sudah mendengar sebuah pernyataan kematian. Kalian, limapuluh saksi mata, katakan kepadaku apa yang kalian anggap benar!"

"Ia sudah mati," ujar para saksi.

"Kubur dia! " jawab sang ahli. Maka laki-laki itu pun dikubur.

KAMAR PINJAMAN

Seorang laki-laki membutuhkan uang, dan satu-satunya cara untuk mendapatkannya adalah dengan menjual rumah. Tetapi bagaimanapun ia tidak ingin berpisah dengan semua miliknya.

Melalui kontrak perjanjian dengan pemilik baru, laki-laki tersebut setuju bahwa ia akan memiliki satu kamar yang lengkap dan tidak terkunci, di mana ia dapat menyimpan semua miliknya setiap saat.

Pertama, ia menyimpan benda kecil di kamarnya, dan memeriksanya tanpa mengganggu siapa pun. Ketika ia berubah pekerjaan dari waktu ke waktu, ia menyimpan barang-barang dagangannya di sana. Pemilik baru tersebut tetap tidak keberatan.

Akhirnya ia mulai menyimpan kucing-kucing mati di kamarnya, sampai seluruh isi rumah merasa tidak nyaman karena bau busuk yang menyegat.

Pemilik rumah membawa masalah ini ke pengadilan, tetapi hakim memutuskan bahwa gangguan tersebut tidak melanggar kontrak perjanjian. Akhirnya, mereka menjual rumah itu kembali ke pemilik semula, dengan kerugian yang besar.

TUJUH BERSAUDARA

Pada suatu masa, terdapat seorang laki-laki yang memiliki tujuh anak laki-laki. Sementara anak-anaknya tumbuh, ia mengajari mereka sebanyak yang ia bisa, tetapi sebelum melengkapi pendidikan mereka ia merasakan sesuatu, bahwa keamanan mereka jauh lebih penting. Ia menyadari malapetaka akan menyerang negara mereka. Karena anak-anaknya masih muda dan ugal-ugalan, ia tidak dapat menceritakan rahasia tersebut secara lengkap. Ia tahu kalau mengatakan, "Sebuah malapetaka tengah mengancam,' mereka akan menjawab, "Kami akan tinggal di sini dan menghadapinya."

Maka sang ayah mengatakan kepada masing-masing anaknya, bahwa ia harus menjalani sebuah tugas, dan ia akan segera pergi untuk tugas tersebut. Ia mengirim si sulung ke utara, anak kedua ke selatan, anak ketiga ke barat dan keempat ke timur. Ketiga lainnya, dikirim pergi tanpa tujuan.

Segera setelah mereka pergi, sang ayah, menggunakan pengetahuan khususnya, pergi menuju ke negeri jauh membawa beberapa pekerjaan yang sudah terganggu oleh kebutuhan mendidik anak anaknya.

Ketika mereka menyelesaikan tugas tersebut, keempat anak pertama kembali ke negara mereka. Sang ayah memberi batas waktu yang cukup lama, hingga mereka tidak lagi saling kenal dan berjauhan, sampai memungkinkan untuk pulang ke rumah.

Sesuai dengan petunjuk, anak-anak kembali ke tempat yang sudah mereka kenal semasa kecil. Tetapi sekarang mereka sudah tidak saling kenal. Satunya mengatakan kalau dirinya adalah anak sang ayah, tetapi lainnya tidak percaya. Waktu dan iklim; penderitaan dan kebahagiaan, menyelesaikan tugas mereka, dan penampilan mereka pun berubah.

Karena saling bertentangan dan memutuskan menilai lainnya melalui sikap, janggut, warna kulit, dan cara berbicara --semuanya berubah -- selama berbulan-bulan tidak satu pun membiarkan lainnya membuka surat dari sang ayah, yang berisi jawaban atas masalah mereka dan sisa pendidikan mereka.

Sang ayah sudah membayangkan hal ini, itulah kearifannya. Ia tahu, sampai anak-anaknya dapat memahami bahwa mereka sudah banyak berubah, mereka tidak dapat belajar lagi. Situasi selanjutnya, dua bersaudara sudah saling kenal, tetapi untuk sementara. Mereka membuka surat tersebut. Mencoba menilai kenyataan mereka sendiri bahwa apa yang mereka ambil sebagai pondasi sebenarnya adalah --dalam bentuk yang mereka gunakan bagian luar yang tidak berharga; apa yang sudah bertahun-tahun dihargai sebagai akar kepentingan mereka, dalam kenyataannya mungkin sia-sia dan mimpi yang tak berguna.

Dua bersaudara lainnya, melihat mereka, tidak puas kalau mereka sudah berkembang melalui pengalaman mereka, dan tidak ingin menandinginya.

Tiga bersaudara yang pergi ke tempat lain, belum kembali ke tempat yang ditentukan.

Bagi keempatnya, akan menjadi 'entah kapan', sebelum mereka benar-benar sadar satu-satunya alat kelangsungan hidup dalam pengasingan mereka --kedangkalan yang mereka anggap penting-- adalah rintangan bagi pemahaman mereka. Semuanya masih jauh dari pengetahuan.

PENDAPAT UNTA

Suatu ketika, seorang laki-laki bertanya pada seekor unta, mana yang lebih disukainya, pergi ke tempat tinggi atau rendah.

Unta menjawab, "Apa yang penting bagiku bukan tempat tinggi atau rendah -- tetapi bebannya!"

SUMPAH

Seorang laki-laki yang terganggu pikirannya bersumpah, bahwa kalau masalahnya terpecahkan ia akan menjual rumahnya dan memberikan semua keuntungannya kepada orang miskin.

Waktunya tiba, ketika sadar maka ia haruslah memenuhi sumpah tersebut. Akan tetapi dia sendiri tidak ingin mengeluarkan banyak uang. Oleh karena itu, dicarinya jalan keluar.

Ia pun meletakkan tulisan rumah dijual dengan harga sekeping uang perak. Termasuk seekor kucing. Harga untuk binatang ini sepuluh ribu keping uang perak.

Seseorang membeli keduanya, rumah dan kucing. Maka laki-laki yang telah bersumpah tersebut memberikan sekeping uang perak, hasil penjualan rumah, kepada orang miskin, sedangkan sepuluh ribu keping perak sisanya dikantonginya sendiri.

Banyak pikiran orang bekerja seperti ini. Mereka memutuskan mengikuti suatu ajaran; tetapi menafsirkan hubungan mereka dengannya untuk keuntungan diri sendiri.

'KAUM SUFI ADALAH PEMBOHONG'

Kedudukan kaum Sufi seperti orang asing di sebuah negeri, seperti tamu di sebuah rumah. Siapa pun dalam kemampuan masing-masing berpikir pada mentalitas lokal.

Sufi sejati adalah orang yang 'sudah berubah' (abdal), berubah menjadi bagian penting Sufisme. Orang awam tidak berubah; sebab itu membutuhkan kepura-puraan.

Seseorang yang pergi ke suatu negeri di mana telanjang adalah sesuatu yang dihormati, dan mengenakan pakaian dianggap tidak terhormat. Supaya tetap eksis di negeri tersebut, ia harus melepas pakaiannya. Jika ia mengatakan, "Mengenakan pakaian adalah yang terbaik, telanjang tidaklah terhormat," ia meletakkan dirinya pada sisi luar masyarakat negeri yang ia kunjungi.

Oleh karena itu, apakah ia akan tinggal atau -- jika ia bermanfaat di sana -- akan menerima atau menunda. Apabila pokok bahasan tentang kebaikan mengenakan pakaian atau lainnya diperdebatkan, ia mungkin harus berpura-pura. Karena ada pertentangan kebiasaan di sini.

Bahkan terdapat pertentangan yang lebih besar, antara berpikir kebiasaan dan berpikir bukan kebiasaan. Kaum Sufi, karena berpengalaman, dalam berhubungan dengan lainnya, begitu banyak, mengetahui tingkatan eksistensi yang tidak dapat dinilainya dengan argumen, walaupun seluruh argumen sudah pernah dicoba oleh seseorang pada suatu waktu, sesuatu yang sudah berlaku serta dianggap sebagai 'akal sehat'.

Kegiatannya, seperti seorang seniman, mengurangi ilustrasi tersebut.

TENTANG MUSIK

Mereka tahu kalau kita mendengar musik, dan kita merasakan sesuatu yang tersembunyi di dalamnya.

Maka mereka bermain musik dan memasukkan diri mereka sendiri pada 'keadaan'.

Tahu bahwa setiap pembelajaran harus memiliki semua persyaratannya, bukan sekadar musik, pemikiran, konsentrasi.

Ingat:
Kesia-siaan adalah perahan susu yang luar biasa
Dari seekor sapi yang menendang embernya.

(Hadrat Mu'inuddin Chisyti)

BAGAIMANA MANUSIA MENINGKATKAN DIRINYA?

Ada dua hal: baik dan sesuatu yang harus menjadi baik realitas dan realitas semu. Ada Tuhan dan manusia.

Jika manusia mencari Kebenaran, ia harus memenuhi syarat untuk menerima kebenaran. Ia tidak mengetahui ini. Akibatnya, meyakini keberadaan Kebenaran, ia beranggapan dirinya mampu menerimanya. Ini tidak berkaitan dengan pengalaman, tetapi melanjutkan keyakinan.

Setelah giliranku, misalnya, orang akan terus menggunakan bagian-bagian dari apa yang sudah biasa dianggap sebagai alat berhubungan dengan kebenaran, menggunakannya seperti mantera atau jimat, untuk membuka gerbang. Mereka akan bermain dan mendengar musik, merenungkan tokoh tertulis, berkumpul bersama, sederhana karena sudah melihat hal-hal ini berlangsung.

Tetapi seninya ada di dalam penyatuan unsur yang benar, yang membantu manusia menjadi layak atas hubungannya dengan Kebenaran sejati, bukan peniruan yang tak berarti.

Ingatlah selalu bahwa ilmu (ilm) untuk mempengaruhi jembatan antara sisi luar dan sisi dalam, jarang sekali dan diturunkan hanya kepada sedikit orang. Tidak dapat dihindari, akan banyak sekali orang lebih suka meyakinkan diri sendiri yang pada kenyataannya kurang berpengalaman, daripada menemukan pemberi intisarinya.

(Hadrat Mu'inuddin Chisyti)

MISTERI KAUM SUFI

Nyanyian Urdu ini dinyanyikan oleh pengikut pemimpin Chisyti di abad kesembilanbelas, Sayid Mir Abdullah Shah, yang bermukim di Delhi. Maksudnya adalah menunjukkan bahwa Sufi dikenal melalui sesuatu yang mereka bagi, sesuatu yang tidak dapat digambarkan melalui nama, ritual atau tanda-tanda kebesaran; kendati semuanya sesuai dengan kesatuan batiniah manusia yang misterius.

Aku melihat manusia bebas duduk di tanah
Di bibirnya sebatang ilalang,
jubahnya robek, tangannya letih.
Dapatkah yang satu ini menjadi Pilihan Agung?
Ya, Temanku, itulah Dia!
Syeikh Sa'di Baba, Sultan Arif Khan, Syah Waliyullah al-Amir
Tiga gelombang dari satu lautan.
Tiga raja dalam jubah pengemis.
Dapatkah mereka menjadi 'Pilihan Tertinggi?
Ya, Wahai Temanku, semuanya adalah Dia!
Semuanya Dia, Semuanya Dia, Semuanya Dia!
Muslim, Hindu, Kristen, Yahudi dan Sikh.
Bersaudara dalam perasaan tersembunyi -
namun siapa yang tahu bagian dalamnya? ...
Wahai Sahabat dari Gua!
Mengapa kapak, mangkuk-mengemis?
Mengapa kulit domba, tanduk dan topi?
Mengapa batu di atas pengikat pinggang?
Lihat: ketika dalam darahmu mengalir anggur
Semua adalah Dia, Temanku, adalah Dia!
Semuanya Dia, Temanku, adalah Dia!
Apakah engkau pergi ke puncak gunung?
Apakah engkau duduk di suatu tempat?
Mencarinya ketika Sang Guru tiba,
Mencari permata di dalam tambang!
Semuanya Dia, temanku, sahabat, Semuanya Dia!
Diposting oleh Moh. Jazuli
Visit the Site
MARVEL and SPIDER-MAN: TM & 2007 Marvel Characters, Inc. Motion Picture © 2007 Columbia Pictures Industries, Inc. All Rights Reserved. 2007 Sony Pictures Digital Inc. All rights reserved. blogger template by blog forum